Tidak 100% Baik dan 100% Jahat

20140201-122658.jpg


Apa yang anda pikirkan jika mendengar “wayang” ?
Mungkin adalah suatu pertunjukan tradisional jawa dengan peraga (bisa berupa boneka kulit, boneka kayu, atau justru orang) yang menampilkan cerita tertentu dengan diiringi musik sepanjang pertunjukan.
Tetapi wayang bisa dipahami lebih dari sekedar hiburan pertunjukan. Seperti kata orang tua, hendaknya dalang (oknum dibalik pertunjukan wayang) bisa menjadikan penampilannya sebagai tuntunan dan tidak hanya tontonan.
Wayang kulit atau wayang orang, pada khususnya yang kita temui sebagai karya tradisional Jawa, banyak membawakan cerita Mahabarata dan Ramayana, karya sastra epos asli India yang kemudian digubah oleh empu-empu Jawa jaman dahulu sehingga banyak mengalami penyesuaian dengan adat masyarakat Jawa.

Wayang, secara harafiah, berarti bayang-bayang. Mengapa demikian? Karena kisah yang dipertunjukkan adalah bayangan dari kehidupan manusia itu sendiri. Dalang diibaratkan sebagai kuasa yang menggerakkan setiap sendi kehidupan para wayang, kelir sebagai dunia yang ditempati manusia, dan gagrak wayang sebagai manusia-manusia yang setelah akhir pertunjukan akan maduk lagi ke kotaknya tak ubahnya manusia yang telah habis riwayatnya. Maka tak heran jika Sujiwo Tejo mengatakan bahwa hidup ini adalah akting dengan skenario yang tidak kita ketahui.

Para aktor wayang digambarkan sebagai manusia itu sendiri. Akan tetapi sering kali kita memaknai kisah-kisah dibaliknya hanya sebatas kebaikan melawan kejahatan dan akan dimenangkan oleh sang kebaikan, seperti halnya Pandawa melawan Kurawa. Oh, tidak. Leluhur kita tidak mewariskan seni ini dengan nilai yang hanya sedangkal itu. Wayang adalah bayangan hidup manusia, jadi peraganya pun adalah karakter-karakter manusia pula. Tidak ada manusia yang 100% baik dan 100% jahat.

Coba kita perhatikan Arjuna, satria lelananging jagad dengan 99.999 istri (sakethi kurang siji) yang dipuja-puja dan selalu menjadi jagonya para dewa. Apakah dia adalah cermin orang yang suci dan selalu baik dalam perbuatannya? Suatu kali ia melihat seorang pemuda yang berguru pada sebuah patung Drona dan melatih ilmunya tanpa henti. Arjuna yang bertemu dengannya ternyata jatuh hati pada istrinya, hingga terjadi pertempuran dan akhirnya kalah. Merasa dipecundangi, Arjuna meminta pada guru Drona yang asli untuk menghadapi sang pemuda. Maka guru Drona dengan memanfaatkan kepatuhan sang pemuda padanya meminta kesaktiannya sampai kemudian membunuhnya. Pemuda itu ialah Bambang Ekalaya dan fragmen ini diceritakan dalam lakon Palguna-Palgunadi.

Kita perhatikan lagi Duryudana yang kita tahu keserakahnnya sehingga tidak mau menyerahkan Astina yang sejatinya menjadi hak para Pandawa. Apa yang anda pikirkan ketika menghadapi pilihan antara mempertahankan kestabilan ekonomi keluarga atau menyerahkan hak pada Pandawa tetapi harus memikirkan bagaimana menghidupi 99 orang adik dan keluarganya. Atau ketika kesetiannya diuji karena istrinya, Banowati, berselingkuh dengan Arjuna.

Sekali lagi, tidak ada manusia yang 100% baik dan 100% jahat. Itulah sebabnya Sujiwo Tejo selalu mangagungkan Rahwana dengan cintanya yang besar pada Sinta, sampai-sampai ia tidak akan menyentuh Sinta dalam penculikannya jika Sinta belum menerima cinta Rahwana (karena negeri Alengka besar dalam pemujaan Siva dan menganut garis matrilineal / garis ibu sehingga sangat menghormati wanita), bandingkan dengan Rama yang justru menolak Sinta setelah mendapatkan Sinta kembali (fragmen Sinta obong).

Jadi, marilah kita pahami bahwa dunia bukanlah tentang hitam-putih, benar-salah tetapi tentang nilai-nilai yang kita junjung. Kumbakarna menjunjung tinggi nilai patriotisme dan nasionalisme dengan mati berperang melawan prajurit Rama meskipun ia tahu penyebab perang, yaitu penculikan Sinta, adalah tidak mencerminkan nilai yang baik. Bahkan interpretasi nilai pun di tiap waktu dan tempat dapat berinterfernsi bahkan berbeda. Saya sejak kecil diajarkan bahwa makan sebaiknya dengan mulut tertutup sehingga tidak “kecap”, tetapi sekarang dengan pergaulan yang semakin luas nilai mengenai kesopanan makan ini tidak menjadi penting bagi orang lain. Mungkin ini yang disebut perbedaan interpretasi nilai, yang barangkali pula menjadi awal mula sumber peperangan di berbagai zaman dan tempat (akibat perbedaan).

Seringkali kita lihat media (tidak jarang kita pun demikian) membombardir berita mengenai orang-orang penting dengan berbagai masalahnya : korupsi, kawin-cerai, kampanye, dan sebagainya. Dan mereka dihakimi benar-salahnya, ya memang kita semua sepakat dan menganut nilai bahwa kepercayaan sebagai pejabat yang diberikan mandat sudah seharusnya melaksanakan kewajibannya bukannya menyelewengkannya. Tetapi sekali lagi tidak ada manusia yang 100% baik dan 100% jahat, dan koruptor itu pun juga adalah manusia.

Tulisan ini dipungkasi dengan pesan : “make love, not war”.

2 thoughts on “Tidak 100% Baik dan 100% Jahat”

  1. Tulisan berat, amat berat. 100% gw setuju bahwa tidak ada 100%baik dan 100% jahat. Nilai tergantung sudut pandang yang dipilih. Untuk satu hal dari berbagai sisi bisa jadi baik, tapi ada satu sisi yang jahat, begitu juga sebaliknya. Yang terbaik yang bisa dilakukan manusia adalah mencoba untuk meyakini nilai yang ia percayai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s