Epikuros ~ Hedonisme yang Disalahmengerti

Ilustrasi Taman (The Gargen) Epikuros

Apakah hedonisme itu? Mengejar kesenangan duniawi saja? Berpesta pora mabuk kepayang sampai lupa daratan?

Menurut KBBI, hedonisme sendiri diartikan sebagai berikut:

Pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup.

Ceritanya hari Jumat, 11 September, kemarin ada webinar gratisan dari Teater Utan Kayu bertajuk Philosophy Underground – 7 Jalan Bahagia dan di pertemuan pertama tersebut membahas tentang filsuf Epikuros. Untuk ringkasan dari penjelasan pemikiran Epikuros mungkin dapat dilihat di catatan pacarnya teman saya di sini.

Berhubung saya agak pemalas, jadi saya tuliskan saja apa yang menurut saya menarik. Dan menurut saya yang menarik dari bahasan mengenai Epikuros adalah pandangannya mengenai hedonisme sangat jauh berbeda dengan apa yang dimengerti oleh kita pada umumnya (mungkin bagi mahasiswa filsafat atau penyuka filsafat sudah banyak mengetahui mengenai aliran-aliran dari paham hedonisme seperti Epikureanisme atau Utilitarianisme, juga megenai pandangan-pandangan Epikuros yang banyak dipengaruhi Demokritos dan Aristoteles).

Dari pandangan awam tentunya ketika kita mendengar tentang hedonisme yang terbayang adalah mengejar pemenuhan kenikmatan duniawi (yang kadang kita bayangkan berlebihan tanpa memikirkan konsekuensinya).

Memang benar bahwa pandangan Epikuros menitikberatkan pada kesenangan atau kenikmatan (pleasure). Tetapi perlu diingat bahwa dalam “The Garden“, komunitas pengikut ajaran Epikuros (yang ternyata cukup kontroversial karena mengundang wanita bahkan yang tuna-susila untuk ikut serta menjadi anggota) hidup dengan sederhana, bukan yang bermewah-mewahan atau berpesta-pora (memang mereka mengadakan perjamuan makan bersama-sama sebulan sekali di tanggal kelahiran Epikuros).

Apa yang baik adalah segala sesuatu yang mendatangkan kenikmatan, dan apa yang buruk adalah segala sesuatu yang menghasilkan ketidaknikmatan.

Kenikmatan yang paling puncak adalah ketika tidak adanya penderitaan (atau ketidaknikmatan). Ilustrasi paling mudahnya adalah ketika kita merasa lapar (tidak nikmat/menderita), maka ketika kita makan dan kemudian lapar kita hilang, saat itulah kenikmatan yang paling puncak. Di titik itu seharusnya kita berhenti makan untuk mendapatkan puncak kenikmatan (walaupun kemudian seiring berjalannya waktu, akan berkurang lagi).

Dan salah satu hal lagi yang menarik adalah:

Kebahagiaan terbesar bagi manusia adalah persahabatan.

Terbukti dengan komunitas Epikuros yang juga menginklusi wanita, hidup sederhana dan makan dengan berkumpul bersama-sama, mereka menjunjung nilai-nilai persahabatan.

Mungkin lain kali kita perlu berpikir dua kali untuk menggunakan kata “hedon” dalam ragam bahasa sehari-hari, meskipun itu untuk olok-olok.

2 thoughts on “Epikuros ~ Hedonisme yang Disalahmengerti”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s