Ceuk Aing

Tiket Dongeng Sujiwo Tejo – “Kisah Cinta Ceuk Aing”

Hari Minggu, 30 Agustus, kemarin dilangsungkan pertunjukan virtual bertajuk “Ceuk Aing” oleh dalang edan yang biasa kita kenal dengan mbah Tejo / Sujiwo Tejo. Memang di masa pandemi yang semua orang dianjurkan di rumah saja ini, banyak pertujukan yang dihadirkan secara virtual dengan tetap membayar tiket dan kita diberikan tautan untuk mengakses platform yang menampilkan pertunjukan tersebut.

Iklan Ceuk Aing ini sudah cukup gencar dipromosikan sejak jauh-jauh hari di banyak media sosial. Memang pendukung pertunjukan ini lumayan banyak dan sudah pasti tidak diragukan kualitasnya:

  • Agus Noor: sang pangeran kunang-kunang sebagai sutradara (beliau memang biasa menjadi penulis naskah untuk pertunjukan-pertunjukan seni, khususnya bergenre “kreatif” semacam ini dan di Indonesia Kaya)
  • Sujiwo Tejo: sudah tentu yang punya hajatan, dan berperan sebagai sang juru cerita dalam kisah pertunjukan ini
  • Eko Supriyanto: penari ternama di tanah air yang pernah menjadi penari latar Madonna
  • Paksi Raras Alit: vokalis band keroncong di Jogja, yang menjadi lakon utama pria di kisah pertunjukan ini
  • Rianto: penari lengger pria asal Banyumas yang hidupnya diangkat menjadi film “Kucumbu Tumbuh Indahku”
  • Syifa: pianis tuna netra yang tampil di fragmen pembuka dan penutup pertunjukan
  • Paduan suara Universitas Katolik Parahyangan

Jalan cerita dalam kisah yang ditampilkan dalam 2 jam ini banyak merujuk pada kisah-kisah nusantara sehingga menjadikannya cukup menarik, antara lain:

  • Centong yang dibawa-bawa pemeran perempuan dan anjing yang selalu setia menemani sang tukang cerita, merujuk pada kisah Dayang Sumbi & Sangkuriang
  • Cerita Rara Jonggrang yang dikisahkan verbal dan dinyanyikan
  • Kisah anoman yang tidak mati-mati dari sejak Ramayana sampai Mahabharata selesai
  • Tukang cerita yang disuruh memilih antara dia atau anjingnya yang masuk nirwana, merujuk pada kisah Puntadewa dan anjingnya (titisan Bathara Dharma) dalam perjalanannya menuju nirwana
  • Dan tentunya, beat andalan sang Presiden Jancukers yang merujuk pada cinta Rahwana kepada Sinta …

Tuhan, bila cintaku pada Sinta terlarang, mengapa Kau bangun megah perasaan ini dalam sukmaku.

Seperti cerita nusantara atau pertunjukan pada umumnya, banyak pesan moral yang disisipkan dan dapat dipetik dalam pertunjukan ini. Misal mengenai ketulusan dalam mencintai atau mengenai pencarian jati diri (seperti yang menjadi tajuk utama).

Yang saya cukup salut adalah mas Paksi yang lancar menyanyikan lagu-lagu Sujiwo Tejo dengan baik, Bahkan musik dan paduan suara yang membawakan lagu-lagunya begitu persis seperti di “kaset” aslinya. Lagu-lagu yang dimainkan antara lain

  • Titi kala mangsa (dinyanyikan Sujiwo Tejo, diiringi Syifa di fragmen pembukaan)
  • Utang Rasa
  • Kan Tak Kami Tak Makan (dinyanyikan sebagai tablo adegan pembukaan)
  • Sugih Tanpo Bondo
  • Kidung Kekasih
  • Doa di Kerja
  • Gorong Gorong
  • Pada Sebuah Ranjang
  • Anyam Anyaman Nyaman
  • Ceuk Aing (dinyanyikan sebagai klimaks pertunjukan)

Semoga proses kreatif para seniman Indonesia tidak berhenti di masa pandemi ini dan terus berkarya. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s