Merak yang Baik dan Monyet yang Serakah

Sudah beberapa hari ini si burung Merak bingung tak karuan memikirkan buah hati satu-satunya yang terbaring lemas di sarang mereka. Entah karena salah makan atau karena memang cuaca sedang tidak menentu. Tapi memang sejak mereka pulang dari mencari makan di lereng dekat hutan Wanamarta, si cempluk tampak kehilangan daya hidupnya. Tidak kuat untuk mengangkat tubuhnya sendiri, ia selalu tiduran, sesekali terbangun dengan mata sayu. Bahkan biji-bijian yang diberikan simboknya hanya dimakan sedikit.

Khawatir dengan kondisi anaknya, si burung Merak mencoba untuk bertanya pada burung-burung yang lain apa yang bisa ia lakukan untuk kesembuhan kesayangannya itu.

“Coba saja diberi air kelapa. Kabarnya sangat ampuh untuk yang keracunan”, saran burung Dara.

“Sudah, relakan saja kawan. Kalau memang sudah takdirnya mati, ya mati saja”, kata burung Gagak sekenanya sambil lalu dan terbang lagi.

Burung Gelatik geleng-geleng mendengar saran kawan-kawannya. “Jangan dengarkan perkataan si Gagak, bu Merak”, tukas Gelatik. “Tidak mungkin pula kita mencari pohon kelapa di tengah hutan hujan seperti ini, pantai yang kuketahui cukup jauh.” Semakin lunglai lah burung Merak mendengarnya.

“Tapi jangan khawatir. Aku pernah mendengar kasak-kusuk kalau keracunan juga dapat disembuhkan dengan buah ciplukan. Coba kau cari di sebelah timur hutan Wanamarta yang berbatasan langsung dengan sungai” saran Gelatik.

“Tidak ada salahnya dicoba”, batin Merak. “Seperti apa buahnya?” tanyanya.

“Tidak akan sulit menemukan pohonnya. Biasa hidup liar di tepian sungai, buahnya dibungkus semacam kulit tipis seperti kelopak bunga berwarna hijau” kata Gelatik.

“Baiklah, aku akan berangkat segera”

Merak pun berangkat mencari buah ciplukan untuk anaknya yang sakit. Dengan berat hati ia meninggalkan anaknya dan menitipkannya pada kawan-kawannya.

Berjam-jam lamanya ia berjalan menembus lebatnya hutan Wanamarta yang terkenal wingit. Sampai kemudian ia menemui sungai yang bergemericik dan menyusurinya sambil membuka matanya lebar-lebar untuk menemukan pohon yang ia cari.

“Hei, kamu bukan hewan dari sini. Siapa kamu?!” ada yang berteriak-teriak memekakkan telinga. Ternyata dari atas pohon trembesi seekor monyet telah mengawasi gerak-gerik si burung Merak.

“Hai Monyet. Aku Merak. Aku sedang mencari buah ciplukan untuk anakku yang sedang sakit. Apakah kamu mau membantu aku mencarikannya, atau paling tidak memberi tahu dimana pohonnya?” jawab sekaligus tanya Merak.

“Ha ha ha. Apakah kamu tidak tahu, seluruh pohon yang ada di aliran sungai ini adalah milik kaumku. Kamu tidak boleh mencari buah di sini, apalagi buah ciplukan yang di dekat batu besar itu.”

“Tolonglah Monyet. Kasihanilah anakku yang sedang sakit.”

“Tidak!” Sambil mengejek, ia melompat turun dan menuju pohon ciplukan yang dicari oleh Merak. Dipetiknya sebanyak-banyaknya buah ciplukan dan dimasukkan ke dalam mulutnya. Sambil mengunyah dengan mulut penuh, ia julurkan lidahnya ke arah Merak sambil mengayunkan tangannya tanda mengusir.

Merasa hampir putus asa, Merak terus berjalan ke arah timur melompati batu menyeberangi sungai menuju ke tepi hutan.

Sambil merayakan kemenangannya, Monyet terus makan buah ciplukan dari satu pohon ke pohon yang lain. Karena telalu kenyang, kewaspadaannya berkurang. Tanpa ia sadari satu sosok telah mengintainya sejak ia turun dari atas pohon. Sambil tetap memegang buah di tangannya dan mulut yang lelah mengunyah, ia merebahkan dirinya barang sejenak.

“Aummm…” seekor Harimau muda yang trengginas menerkam si monyet dan menggigit kaki kanannya.

“AAARGGGHHH. Ampuunnn..!!!” teriak si monyet kesakitan sontak setelah tersadar telah digigit oleh Harimau. Tulangnya terasa ngilu terkena gigi Harimau yang menancap dan daging betisnya koyak.

Entah karena beruntung atau memang belum nasibnya untuk mati, si Harimau melepaskan gigitannya.

“Ah, dagingmu pahit” kata Harimau. “Hewan apa kamu yang berdaging pahit?”

“Apakah kamu tidak tahu, aku monyet yang menguasai pohon di aliran sungai ini?” sambil meringis kesakitan memegangi kakinya, si Monyet menjawab Harimau.

Tertawa terbahak-bahak lah si Harimau. “Hewan lemah seperti kamu menguasai daerah ini? Melindungi kaki sendiri saja tidak bisa. Kalau aku masih selera akan dagingmu, tentu sudah mati kamu. Sudah, aku mau pergi saja mencari penguasa lain yang lebih enak dagingnya. Ha ha ha!”

Sepeninggal si Harimau, si Monyet masih kesakitan tanpa bisa beranjak karena kakinya cukup parah. Berteriak minta tolong pun, suaranya kalah dengan suara gemericik sungai.

Agaknya memang hari ini masih hari keberuntungan si Monyet. Beberapa jam kemudian di bawah sinar terik matahari, tampak bayang-bayang si Merak kembali dari seberang sungai dan membawa buah ciplukan yang ia cari.

Terkejut si Merak melihat si Monyet yang terbaring kesakitan dengan kaki berdarah-darah. Tanpa pikir panjang diletakkan buah ciplukan yang ia bawa, dan segera mencari daun-daunan yang bisa dia dapatkan untuk membalut luka di Monyet. Setelah luka robek dibersihkan dengan air sungai, ramuan daunan dibalurkan sebagai obat.

Monyet merasa sangat malu. Setelah semua perlakuan dia ke Merak yang sangat kasar, ternyata ketika ia tidak berdaya justru Merak lah yang pertama kali menolongnya dengan tulus.

“Terima kasih Merak” kata Monyet

“Sudah demikianlah seharusnya, sebagai sesama hewan untuk saling membantu” jawab Merak sambil tersenyum.

Beberapa saat kemudian, tampak rombongan monyet yang menuju aliran sungai hendak minum. Mereka terkejut melihat salah satu anggota kawanan mereka yang terluka parah dengan seekor burung merak di sampingnya. Sempat mereka mengira bahwa itu adalah perbuatan si burung merak.

Si Monyet yang terluka menjelaskan pada kawanannya apa yang telah terjadi padanya dan bahwa Merak lah yang telah menolongnya. Teranglah mereka duduk peristiwanya dan bahwa mereka harus mulai meningkatkan kewaspadaannya akan adanya bahaya di kemudian hari.

Burung Merak pun kemudian kembali ke sarangnya dengan penuh harapan akan kesembuhan anaknya karena segepok buah ciplukan telah ia dapatkan, serta mendapatkan kawan-kawan baru para monyet di sebelah timur hutan.

Sayang, anaknya telah mati ketika ia pulang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s