Failed to Start Up

Beberapa tahun yang lalu (yah mohon maaf, karena draft tulisan ini sudah mengendap dari sejak 2013) saat sedang berjalan-jalan di Gramedia, melihat buku-buku yang terpajang, saya tertarik dengan sebuah buku yang membahas mengenai Startup Company. Saya buka satu buku yang tidak terbungkus plastik, dan ada bab mengenai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kegagalan seuatu Startup, antara lain: perbedaan visi, founding team yang tidak full-time, adanya konflik internal.

Hmm, jika dipikir-pikir benar juga memang beberapa hal tersebut. Suatu kali saya dan beberapa rekan saya sewaktu kuliah mencoba untuk memulai bisnis baru. Karena kami melihat peluang ketika salah satu rekan kerja saya membutuhkan tim developer aplikasi untuk suatu kantor hukum. Maka kami pun mencari resource yang dibutuhkan dengan memanfaatkan koneksi yang masih kami miliki dengan adik-adik kelas di kampus. Harapannya dengan almamater yang sama, kepercayaan lebih tinggi sekaligus memberi pengalaman kerja bagi yang membutuhkan.

Setelah berbagai intrik dan tarik ulur, maka kami berempat pun membentuk unit bisnis dan kemudian memformalkan dalam bentuk CV. Tidak mudah memang untuk memulainya, mulai dari mendapatkan alamat kantor yang resmi, perurusan legalitas, dan lain-lain. Tapi kemudian berjalan juga bisnis kami untuk memberikan jasa tenaga developer kepada client kami. Sebenarnya client kami cukup totalitas dalam mengerjakan proyek ini, bahkan sampai mereka menyewa sebuah rumah dan dijadikan kantor bagi karyawan kami.

Sayangnya setelah hampir setahun, banyak masalah terjadi. Mulai dari masalah internal kami dalam mengelola anggota tim, sampai dengan masalah dengan klien kami mengenai pembiayaan. Karena sudah tidak kuat lagi, maka dengan terpaksa kami menghentikan usaha kami, dan para anggota tim kemudian mencari jalannya masing-masing. Saya pun masih sedikit menyesalkan hal itu, terlebih masih ada tagihan klien yang belum dibayarkan πŸ˜…

Mencoba untuk membahas hal internal kami, sebagai berikut:

  • Perbedaan Visi
  • Seringkali kita mendengar tentang visi. Terlalu sering malahan, sampai-sampai terdengat biasa saja. Tapi ini hal yang justru paling krusial bagi sebuah tim. Apa sih yang mau dicapai bersama? Dan apa yang harus dilakukan bersama-sama untuk mencapainya. Sayangnya saat itu kami belum sempat untuk berkomitmen bersama-sama untuk visi usaha kami.
    • Tidak Full-Time
  • Ya, saat itu memang kami berempat sebagai founder usaha memang juga masih merintis karir. Sehingga tidak dapat full time mencurahkan pikiran dan tenaga untuk fokus ke usaha tersebut. Sebenarnya bukan tidak mungkin untuk dikelola, asalka kaki kompak.
    • Konflik Internal
  • Untuk kasus kami, mungkin terlalu ekstrim jika dikatakan konflik, karena kami berempat pun masih bergaul seperti biasa. Tapi tidak adanya komitmen penuh dari kesemuanya, barangkali, yang menyebabkan kami kurang maksimal dalam mengelola usaha.
  • So, semoga menjadi pengalaman dan lebih berhati-hati dalam mengerjakan usaha, terlebih jika co-founding dengan orang lain bahkan teman atau keluarga sendiri.

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

    Google photo

    You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

    Connecting to %s