Mahabandhana – WO Sriwedari (Gedung Kesenian Jakarta 3 Okt 2014)

3 oktober 2014
Wayang Orang Sriwedari yang telah berusia 104 tahun dengan diproduseri ibu Eny Sulistyowati dan EO Tri Ardhika production menampilkan pertunjukan wayang orang yang dibalut secara kreatif di Gedung Kesenian Jakarta. Pertunjukan ini bertajuk “Mahabandhana” yang secara harafiah berarti tali yang besar dan di sini diceritakan mengenai bagaimana kiprah seorang Harya Suman di cerita Mahabharata.

Gending-gending pembuka dimainkan dengan semarak dengan semarak dan menghibur penonton, sembari menunggu layar dibuka.

Tablo dibuka dengan menampilkan sang Harya Suman muda yang memiliki ambisi tinggi akan kekuasaan dan cinta. Pada fragmen ini ditampilkan monolog sang Harya Suman dan dilatar belakangi dengan adegan kasih Dewi Kunthi dan Raden Pandu.

Adegan pertama menampilkan istana negara Astina yang dipimpin oleh Prabu Abiyasa. Sang Raja dihadap oleh para putra dan punggawanya, Resi Bisma sang kakak, Patih Gandamana, Raden Dhestarastra anak pertama, Raden Pandu, dan Raden Yamawidura. Pada pertemuan tersebut diutarakan mengenai niat sang raja untuk segera turun tahta dan menjadi resi. Untuk itu Resi Bisma mengingatkan bahwa pengganti raja hendaknya tidak sembarangan, melainkan yang memiliki ilmu tata kenegaraan dengan diimbangi sifat-sifat ksatria yang mementingkan kepentingan rakyatnya.

Raden Dhestarastra yang memang memiliki kekurangan penglihatan sejak kecil merasa bahwa persyaratan yang diutarakan oleh Resi Bisma tersebut ia tidak memilikinya. Ia merasa kecewa karena sebagai putra pertama raja ialah yang seharusnya dapat menggantikan kedudukan ayahnya, tapi karena cacatnya ia merasa tidak dianggap. Karena kekecewaannya, ia segera meninggalkan pertemuan itu. Resi Bisma justru menambahkan bahwa sifat yang mudah meluapkan amarah tersebut justru seharusnya tidak dimiliki oleh seorang pemimpin..

Prabu Abiyasa menanyai Raden Yamawidura mengenai kesediaannya naik tahta menjadi raja Astina, tetapi Yamawidura menolak karena memang ia tidak memiliki minat akan gebyar tahta kerajaan. Maka semua pun sepakat untuk mengangkat Raden Pandu untuk menjadi putra mahkota.

Maka berlangsunglah upacara pengangkatan Raden Pandu menjadi pangeran pati atau putra mahkota yang akan menggantikan Prabu Abiyasa memimpin negara Astina.

Sementara itu, di Kerajaan Plasajenar, sang raja Prabu Gandara sedang gandrung kasmaran kepada Dewi Prita, putri kerajaan Mandura. Kedua adiknya, Harya Suman dan Gendari bersedia mewujudkan keinginan sang Raja.

Di kerajaan Mandura, Prabu Basukunthi sedang dihadap oleh putrinya, Dewi Prita, dan para emban pengasuhnya.

Atas kegelisahan putrinya, Prabu Basukunthi menenangkan Dewi Prita karena sayembara memilih suami baginya sebentar lagi akan dilaksanakan. Raden Basudewa, kakak Dewi Prita, diperintahkan untuk segera memulai sayembara dan memanggil para raja yang hendak mengikuti sayembara.

Raja dari seluruh pelosok mancanegara datang dan mengikuti sayembara ini.

Termasuk di antaranya Raden Narasoma, yang sesungguhnya sudah memiliki istri, dengan diikuti oleh adiknya, Dewi Madrim, berkehendak untuk mengikuti sayembara tersebut.

Berbagai cara digunakan oleh para raja seberang tersebut untuk meraih hati Dewi Prita, mulai dari menyombongkan kepunyaannya, kepintarannya, kekayaannya, dan sebagainya.

Datanglah Raden Narasoma ke tengah para raja tersebut dan ternyata berhasil meraih hati sang Dewi Prita, maka kembalilah para raja tersebut dengan hati kecewa.

Turunlah Dewi Prita dari damparnya dan hendak mengalungkan untaian melati sebagai tanda bahwa ia telah memilih Raden Narasoma.

Tapi kemudian datanglah Raden Pandu di istana Mandura sehingga geguritan yang ia tembangkan mengalihkan hati Dewi Prita.

Atas kedatangan Pandu, Dewi Prita urung untuk mengalungkan untaian melatinya kepada Narasoma. Maka Narasoma dan Pandu pun berhadapan saling melemparkan tembangnya untuk meraih hati Dewi Prita. Singkat cerita, Narasoma pun dikalahkan oleh Pandu.

Raden Pandudewanata dipilih oleh Dewi Prita sebagai suaminya.

Karena Dewi Prita telah menentukan jodohnya, senanglah hati prabu Basukunthi dan segera memerintahkan segenap punggawa istana untuk mempersiapkan pernikahan anaknya.

Pernikahan antara Pandu dan Dewi Prita pun dilaksanakan saat itu juga di Mandura. Dan karena sudah menjadi hak Pandu, Dewi Prita diboyong ke negara Astina sebagai istrinya.

Sambil mengiringi rombongan penganten, panakawan ikut serta sambil bersuka ria. Yang agak berbeda dalam penampilan saat ini adalah kostum yang dikenakan pada panakawan saat ini berwarna merah-putih, tidak seperti biasanya. Seperti diceritakan, warna kostum semacam itu disebut canthang balung menggambarkan asal jati diri manusia dari pria dan wanita, adat dari Mangkunegaran Surakarta.

Setelah bercanda ria, para panakawan melanjutkan langkah mengiringi rombongan pengantin.

Sementara itu di Plasajenar, para pasukan tampak bersiap siaga.

Harya Suman menghadap Prabu Gandara dan melaporkan bahwa sayembara memperebutkan Dewi Prita telah berakhir dan dimenangkan oleh Raden Pandu. Prabu Gandara sangatlah marah dan Harya Suman bersesumbar bahwa Prabu Gandara beserta pasukan Plasajenar pasti dapat menghadang dan merebut Dewi Prita.

Maka lewatlah rombongan pengantin Mandura itu menuju Astina.

Dicegatlah rombongan itu oleh Prabu Gandara beserta prajuritnya.

Pertempuran antara rombongan Raden Pandu dengan Prabu Gandara tak terhindarkan.

Di tengah pertempuran antara Gandara dengan Pandu, tiba-tiba anak panah melesat ke dada Gandara dan membunuhnya. Terkejutlah Gandara bahwa yang mengakhiri nyawanya adalah adiknya sendiri, Harya Suman.

Mengetahui kakaknya gugur, Dewi Gendari mendekati jasad kakanya sambil menangis. Harya Suman pun ikut mendekati menyesali kakaknya yang telah berani mengganggu rombongan Prabu Pandu.

Tentu itu semla adalah muslihat Harya Suman sampai kakaknya kemudian mati. Dewi Gendari yang sedianya akan bunuh diri dicegah oleh Dewi Prita dan pada fragmen itu adegan membeku. Tinggallah monolog Harya Suman dengan kelicikannya.

Singkat cerita Pandu memboyong serta Dewi Gendari dan Harya Suman untuk tinggal di Astina. Pandu kemudian menjadi raja besar di Astina menggantikan ayahnya yang melanjutkan sisa hidupnya sebagai resi. Dewi Gendari kemudian dinikahkan dengan Dhestarastra walaupun dalam hatinya sesungguhnya tertarik pada Pandu. Kejayaan Astina diceritakan melalui suluk oleh Harya Suman.

Adegan selanjutnya berlatar waktu jauh hari setelah boyongan Dewi Prita atau Dewi Kunthi dari Mandura itu. Bertempat di kerajaan Pringgadani, Prabu Trembaka memerintah rakyatnya dengan sejahtera karena menjalin hubungan yang baik dengan Astina sebagai negara tetangga. Harya Suman secara khusus mendatangi Prabu Trembaka mencoba membisikkan berita-berita buruk bahwa adanya patih Gandamana yang mempengaruhi Pandu sesungguhnya niatan Astina adalah untuk menjajah Pringgadani.

Tidak mempercayai hal itu, Harya Suman menyerahkan sepucuk nawala kepada Prabu Trembaka dan pergi saat itu juga. Prabu Trembaka yang menbaca nawala itu panas hatinya seketika.

Maka diperintahkannyalah anaknya, Arimba, untuk mempersiapkan pasukan berjaga-jaga jika sewaktu-waktu bertempur dengan Astina. Namun ia berpesan jangan sampai pasukan Pringgadani dahulu yang menyerang Astina karena menurutnya pihak Astinalah yang sesungguhnya punya niatan buruk,

Sementara di perjalanan pasukan Pringgadani ke Astina, Harya Suman membisiki pasukan Astina mengenai adanya pemberontakan dari kerajaan Pringgadani dan memerintahkan untuk menghadang pasukan itu.

Patih Gandamana yang mengetahui adanya pertempuran antara pasukan Astina dan pasukan Pringgadani segera menengahi.

Tapi kedua pasukan yang telah terkena hasutan itu tidak peduli dan justru menyerang patih Gandamana.

Harya Suman pun turut mengeluarkan kesaktiannya untuk menghabisi Gandamana. Habislah patih Gandamana dikeroyok oleh sekian banyak pasukan tersebut.

Merasa telah menang dan berhasil menyingkirkan Gandamana, Harya Suman merasa senang dan bersesumbar bahwa ialah yang akan menggantikan posisi patih di Astina. Namun tak dikira, ternyata Gandamana masih hidup. Merasa telah dipermainkan, tanpa ragu-ragu Gandamana menghajar habis-habisan tubuh Harya Suman sampai remuk redam.

Prabu Pandu yang mengetahui hal itu segera menghentikan perbuatan Gandamana. Bahwa tak sepantasnya seorang patih bertindak main hakim sendiri dan oleh karenanya Prabu Pandu mengusir Gandamana dari Astina. Harya Suman tertawa licik di belakang Pandu.

Maka pertempuran antara pasukan Astina dan Pringgadani pun berlanjut. Prabu Pandu berhadapan dengan Prabu Trembaka.

Dengan kesaktiannya, Prabu Trembaka akhirnya tewas di tangan Pandu.

Mengetahui hal itu, Prabu Pandu merasa sangat sedih. Kerjasama kedua negara yang telah berlangsung damai bertahun-tahun akhirnya kandas karena perpecahan itu. Tapi Dewi Kunthi mengingatkan, tak sepantasnya seorang ksatri bersedih sampai meneteskan air mata di tengah peperangan karena itulah dharma bakti seorang ksatria.

Harya Suman muncul di tengah penonton. Meskipun dengan badan yang sudah tidak utuh, ia dan ambisinya akan terus ada untuk mendapatkan kepuasan kekuasaan di Astina. Karena dialah sang Sengkuni.

Pertunjukan berakhir, seluruh pemain mengucapkan terima kasih kepada semua hadirin.
Pementasan bertajuk “Mahabandhana” ini menceritakan tali-tali yang dirajut oleh sang Sengkuni untuk mengendalikan keadaan seperti yang ia mau demi ambisinya. Sejak ia bertubuh gagah dengan nama Harya Suman sampai kemudian ia berhasil menjadi patih di Astina dengan nama Sengkuni, dan dikenallah ia sebagai simbol kelicikan di pewayangan.

Nuwun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s