Semar Mbangun Kahyangan – Wayang Goes to Campus 2014

Sabtu, 27 September 2014.
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia mengadakan kembali event dari Komunitas Wayang UI bertajuk Wayang Goes to Campus. Event tersebut berupa rangkaian acara mulai dari 23 September dan ditutup pada puncaknya dengan wayang kulit pada 27 September 2014. Pada penutupan acaranya, ditampilkan wayang kulit berjudul “Semar Mbangun Kahyangan” yang dibawakan oleh Ki Begug Purnomosidi (mantan bupati Wonogiri) dengan anggota kelompoknya.

Acara selama hampir seminggu tersebut diadakan di Balairung Universitas Indonesia Depok.

Yang menarik dari pertunjukan ini adalah ditampilkannya 3 dalang sekaligus dalam satu layar. Sehingga bisa kita lihat yang terpampang di atas panggung adalah layar yang lebar dengan 3 set perlengkapan mendalang. Di kesempatan pertama Ki Sigit Mursito, Ki Widodo Wilis, dan Ki Eko Sumarsono tampil secara bersamaan.

Tablo dibuka dengan Ki Lurah Semar Badranaya yang tidak dipamiti istrinya serta keresahannya akan keadaan negara yang semakin gawat dengan berbagai kondisinya. Oleh karena itu ia pun berniat untuk membangun kahyangannya.

Adegan selanjutnya mengilustrasikan keadaan tatanan masyakarat yang semakin tidak karuan. Pertikaian antar pejabat, pejabat yang tidak taat aturan, rakyat kecil yang susah mencari pekerjaan, perpecahan dimana-mana, dan sebagainya.

Tersebutlah kerajaan Purakancana dengan rajanya, Prabu Gudakesa yang sedang disowani para prajuritnya. Ia pun merasakan keresahan yang sama akan kekacauan yang terjadi di setiap sudut kerajaan. Prabu Gudakesa memerintahkan pada Nyi Resi Sutiragen bagaimana caranya agar ia dapat meengupayakan perbaikan negeri dengan berhiaskan Sekar Jati Wasesa. Menurut Sutiragen bunga tersebut hanya dapat dipetik oleh ksatria yang halus budi pekertinya. Karena tidak ada seorang pun di negeri tersebut yang memenuhi kriteria itu, maka Prabu Gudakesa memerintahkan Nyi Sutiragen dan prajuritnya untuk mencari siapa yang dapat memetik sekar tersebut.

Sementara itu, di negara Amarta, Prabu Puntadewa sedang disowani oleh para keluarga Pandawa, Kresna, Baladewa, Bratasea, Nakula dan Sadewa. Mereka berembug tentang keadaan kerajaan yang juga dalam keadaan carut marut.

Tiba-tiba datang menghadap Sengkuni dan resi Durna menghadap prabu Puntadewa. Ternyata mereka berniat untuk meminjam pusaka Jamus Kalimasada untuk mengupayakan pulihnya kondisi negara Astina. Tak lama berselang, datang Petruk yang juga diutus oleh Ki Lurah Semar untuk meminjam Jamus Kalimasada untuk mengupayakan kahyangannya. Prabu Puntadewa berkehendak untuk menjawab keduanya di alun-alun Amarta sementara ia berunding dengan para kerabat istana. Di luar kraton Sengkuni dan para kadang Kurawa mengintimidasi Petruk untuk sebagaiknya pulang saja. Terjadilah perkelahian antara kadang Kurawa dengan Petruk yang kemudian dibantu dengan para putra Pandawa : Gatutkaca, Antareja, Antasena, Anoman.

Setelah para kadang kurawa terbirit-birit lari, hadirlah prabu Puntadewa dan Prabu Kresna menemui Petruk dan Sengkuni. Maka Jamus Kalimasada akan diberikan pada siapa yang dapat membawa Sekar Jati Wasesa. Berangkatlah dua utusan itu melaporkan pada yang mengutus.

Petruk yang kemudian sampai di padukuhan Karangkedempel bernyanyi bersukaria dengan Gareng dam Bagong menghibur penonton.

Setelah cukup bersendau gurau, Petruk melaporkan pada rama Semar bahwa untuk mendapatkan Jamus Kalimasada harus membawa Sekar Jati Wasesa. Raden Abimanyu yang sedang mondok di situ kemudian menawarkan diri untuk membantu. Maka dengan adanya Gatutkaca dan Abimanyu, Semar merestui mereka berangkat dengan panakawan mencari Sekar Jati Wasesa.

Di tengah jalan, bertemulah mereka dengan pasukan dari Purakencana dan pertarungan tidak terelakkan.

Abimanyu kemudian berhadapan dengan Nyi Resi Sutiragen. Sutiragen melihat pembawaan sang Abimanyu seketika merasa telah menemukan sang satria yang dicari-cari yang dapat memetik Sekar Jati Wasesa. Mendengar permintaan Sutiragen untuk dapat memetik bunga bagi negara sang Nyi Resi, sang satria tak bisa menolak. Maka diajaklah Abimanyu ke taman keraton Purakancana. Tapi Abimanyu menolak untuk memetiknya saat itu juga dengan alasan menunggu masa yang tepat. Maka dengan percaya pada satria tersebut, Sutiragen kembali ke istana untuk melaporkan pada sang raja.

Gatutkaca dan para panakawan menyusul Abimanyu. Melihat bahwa Abimanyu telah berhasil menemukan apa yang dicari maka diingatkanlah untuk segera mengerjakan kewajibannya. Abimanyu kemudian memetika Sekar Jati Wasesa tanpa kesulitan dan segera kembali ke Karangkedempel.

Di istana Purakancana, Prabu Gudakesa mendapat laporan dari Nyi Sutiragen bahwa ia telah menemukan satria yang dicari-cari untuk dapat memetik Sekar Jati Wasesa. Tapi tiba-tiba datang laporan dari prajurit yang tergesa-gesa masuk ke istana bahwa Sekar Jati Wasesa telah dipetik dan dibawa kabur Abimanyu. Murkalah Prabu Gudakesa.

Sementara itu, di Padepokan Karangkedempel, turunlah Bathara Guru, Bathara Brama, dan Bathara Indra yang melabrak Ismaya karena mendengar bahwa Ismaya akan membangun kahyangan yang artinya akan membangun kerajaan dewa sendiri. Tentu saja dibantah oleh Semar karena yang dimaksud dengan membangun kahyangan adalah membangun kahyangan batin Semar itu sendiri, bukan berarti mendirikan atau menyaingi kerajaan dewa. Karena kesalahpahaman itu, Bathara Guru dan rekannya kembali lagi naik ke kahyangan.

Tak berapa lama datanglah kadang Pandawa ke Karangkedempel dan kemudian disusul Abimanyu beserta rombongan menyerahkan Sekar Jati Wasesa yang telah didapatkan.

Ternyata Sekar Jati Wasesa yang dicari-cari itu adalah penjelmaan Bathari Sri yang meninggalkan Amarta. Simbol kemakmuran itu pergi meninggalkan kerajaan karena hendak mengingatkan para pemimpin untuk tetap memperhatikan rakyatnya, hilangnya Dewi Sri lah yang menyebabkan banyak kerusakan dimana-mana.

Gudakesa dan pasukan yang mengejar rombongan Abimanyu telah sampai ke padepokan Karangkedempel. Baladewa dan Bratasena segera menyongsong pasukan itu. Tapi Bratasena kemudian kewalahan menghadapi Prabu Gudakesa. Oleh Petruk, Abimanyu dibisiki untuk maju menghadapi Gudakesa tanpa melawan. Gudakesa yang menghadapi Abimanyu yang dihajar terus menerus akhirnya kembali ke wujud asal sebagai Arjuna.

Nyi Sutiragen yang menghadapi Semar kemudian kembali ke wujud asal sebagai Kanestren, istri Semar yang dicari-cari. Maka berkumpullah para kadang Pandawa. Puntadewa meminta maaf pada lurah Semar Badranaya akan keteledorannya dalam mengurus negara sampai-sampai Arjuna dan Kanestren melarikan Bathari Sri sebagai sarana pengingat bagi Amarta.

Adegan terakhir adalah ruwatan yang dilakukan oleh dalang yang berbeda. Ruwatan ini dalam rangka mendoakan agar padepokan tersebut (Universitas Indonesia) dijauhkan dari segala kesulitan dan diberikan eling lan waspada bagi semua civitas academia-nya. Hal itu dilakukan dengan memanggil Bathara Kala (simbol waktu atau simbol kejahatan) dan meminta agar pasukannya tidak mengganggu tempat tersebut.

Tancep Kayon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s