Perang Bharatayuda Jayabinangun

Dalam kisah-kisah pewayangan kita banyak menjumpai perang-perang besar yang terjadi antar ksatria dengan berbagai motif dan latar belakang. Walaupun semua orang tentu menginginkan kedamaian tanpa ada perpecahan, tetapi kadang perang tak terhindarkan untuk terjadi. Pun demikian kisah-kisah perang dalam pewayangan sesungguhnya adalah perang yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari, karena wayang (bayangan) adalah cerminan kehidupan manusia.

Disebutkan bahwa terdapat beberapa kisah peperangan yang terkenal dan sering diceritakan antara lain :

  1. Sari Kudhup Palwaga : adalah kisah perang Prabu Ramawijaya dengan Prabu Dasamuka karena merebut kembali istri tercintanya, Dewi Shinta
  2. Pramukswa : adalah perang antara Raja Astina, Prabu Pandhu Dewanata, dengan raja Pringgadani, Prabu Trembaka. Diceritakan hal ini disebabkan karena pemberontakan raja Pringgadani terhadap Astika akibat hasutan Harya Suman alias Sengkuni.
  3. Guntarayana : adalah perang antara Begawan Ciptaning (Raden Arjuna yang sedang bertapa) dengan Prabu Niwatakawaca, raja Imaimantaka yang menyebabkan geger di kahyangan karena menginginkan bidadari Bethari Supraba.
  4. Gojalisuta : adalah perang antara ayah dan anak, yaitu Prabu Kresna yang kemudian sampai hati melepaskan senjata Cakra-nya ke Bomanarakasura yang disebabkan matinya raden Samba oleh Boma.
  5. Bharatayuda Jayabinangun : adalah perang saudara dalam trah Bharata yang seperti kita ketahui merupakan pertempuran antara Pandawa dan Kurawa yang merebutkan Astina.

Mengenai perang Bharatayuda ini pun sering disebutkan dengan nama yang mirip-mirip walaupun tidak semuanya salah :

  • Bharatayuda : keturunan Bharata yang saling berperang (yuda=perang)
  • Bratayuda : perang yang berjalan 18 hari yang melibatkan semua kelas rakyat dan segala senjata (brata=laku, yuda=perang)
  • Brantayuda : cinta para satria terhadap kebenaran dan keutamaan demi harumnya ibu pertiwai (branta=cinta, yuda=perang)

Para dalang dalam pementasannya lebih sering menyebut selengkapnya Bharatayuda Jayabinangun (Bharata=wangsa Bharata, Yuda=perang, Jaya=menang, Binangun=membangun, karena siapa pun yang menang nantinya harus membangun kembali kerajaan yang banyak mengalami kerugian akibat peperangan)

Asal mula perang Bharatayuda ini secara singkat dikisahkan sebagai berikut :

Puntadewa dan Duryudana sama-sama merasa berhak menjadi putra mahkota, terlebih sejak mangkatnya Pandhu Dewanata sehingga tampuk kepemimpinan Astina sementara dipegang oleh Prabu Dhestarastra. Pandawa kemudian meninggalkan Astina dengan peristiwa Bale Sigala-gala dan membangun kota Indraprastha. Kurawa yang melihat perkembangan Indraprastha merasa iri dan dengan tipu muslihat permainan dadu akhirnya merebut Indraprastha dari tangan para Pandawa. Akibat kekalahan bermain dadu, Pandawa dihukum dengan dibuang di hutan 12 tahun lamanya dan ditambah satu tahun bersembunyi di negara lain tanpa boleh diketahui Kurawa. Jika sampai ketahuan maka harus mengulangi lagi 12 tahun pembuangan ditambah satu tahun bersembunyi

Pandawa kemudian menyamar sebagai abdi di negara Wiratha. Raja Wiratha, Prabu Matswapati, adalah kakek buyut dari para Pandawa karena Prabu Matswapati adalah adik dari Dewi Setyawati atau Durgandini yang tak lain adalah nenek buyut Pandawa. Wiratha diserang oleh musuh yaitu Prabu Susarman dari kerajaan Trigarta dengan dibantu oleh Kurawa. Dengan bantuan Pandawa, Wiratha dapat memenangkan peperangan. Pandawa hampir saja diketahui penyamarannya oleh Kurawa di peperangan itu, tapi beruntung hari itu adalah hari terakhir penyamaran sehingga Pandawa tidak perlu mengulang pembuangannya lagi. Pandawa kemudian meminta kembali Indraprastha, tapi Kurawa tidak mau memberikannya. Bahkan Sri Kresna sebagai duta Pandawa yang menemui pada Kurawa dikeroyok oleh para prajurit di alun-alun Kurawa sampai-sampai dia terpaksa ber-Triwikrama.

Perang Bharatayuda di palagan kurusetra banyak dinantikan oleh para satria sebagai sarana untuk memenuhi nadar, sumpah ataupun janji mereka, antara lain :

  1. Ketika Pandawa kalah bermain dadu dan dipermalukan oleh Duryudana & Dursasana sampai gelung rambut Drupadi terurai dan pakaiannya dilepas sampai berlapis-lapis oleh Dursasana. Drupadi pun bersumpah tidak akan menggelung rambutnya jika belum dikeramasi oleh darah Dursasana dan Bimasena belum puas jika belum meremukkan paha Duryudana. Maka terjadilah sumpah mereka dengan Bimasena yang meremukkan paha Duryudana dan menggelegak darah Dursasana yang kemudian digunakan untuk keramas Drupadi.
  2. Ketika Kresna menjadi duta Pandawa ke Astina, Setyaki sebagai kusir di kereta Jaladara digelandang oleh Burisrawa ke alun-alun Astina. Setyaki yang sejatinya kalah sakti dan kalah postur tubuh dari Burisrawa kemudian bersumpah akan melanjutkan perangnya di perang Bharatayuda. Dan kesampaianlah sumpah itu di Bharatayuda walaupun di tengah perang Setyaki tetap kalah dan mungkin mati jika tidak ditolong oleh Pandawa dengan Pasopatinya yang menembus badan Burisrawa.
  3. Dendam kesumat yang berlangsung antara Resi Drona dengan Prabu Drupada dituntaskan di Bharatayuda. Drona yang awal mulanya menyusul saudara seperguruannya ke kerajaan Pancala dipermalukan oleh Prabu Drupada. Drona bersumpah bahwa Drupada akan dikalahkan oleh murid-muridnya, dan terjadilah Drupada dipikut oleh para Pandawa dan setenah Pancala pun diserahkan pada Drona. Di palagan Kurusetra, Prabu Drupada kemudian gugur oleh Rresi Drona. Resi Drona gugur dibunuh oleh Drestajumna, putra Drupada. Drestajumna dibunuh oleh Aswatama, anak Drona. Dan akhirnya Aswatama dibunuh oleh Parikesit, si bayi cucu Pandawa yang menjejak panah Pasopati.

Para satria pun memetik buah kelakuannya di dalam Bharatayuda

  1. Abimanyu yang telah menikah dengan Siti Sendari pernah berbohong ketika melamar Dewi Utari, putri Wiratha. Ketika ditanya apakah sudah menikah, Abimanyu menjawab “belum” bahkan ia bersumpah akan diserang senjata yang sangat benyak ke tubuhnya jika memang ia telah menikah. Maka terjadilah apa yang ia ucapkan ketika berangkat berperang. Meskipun Abimanyu berhasil membunuh Lesmana Mandrakumara, putra mahkota Astina, ia mati dengan ribuan anak panah menancap di tubuhnya.
  2. Kalabendana, paman Gathutkaca, mati seketika ketika dipukul kepalanya (dikeplak) secara tidak sengaja oleh Gathutkaca karena membenarkan bahwa Abimanyu telah menikah lagi dengan Dewi Utari. Karena Siti Sendari pasti akan sedih jika mengetahui Abimanyu menikah lagi dan Gathutkaca pun menutup-nutupinya. Maka ketika Gathutkaca maju ke medan laga, jika Kalabendana menitis ke senjata Kunta yang menjemput ajal sang Gathutkaca.
  3. Narpati Basukarna berbohong ketika akan berguru kepada Ramabargawa atau Parasurama dengan mengatakan bahwa ia adalah anak Brahmana. Parasurama pun menurunkan semua kesaktiannya kepada Karna, tapi ketika mengetahui bahwa Karna berbohong (sejatinya Karna hanyalah anak Sudra yatu kusir Adirata), Parasurama pun menyumpahi Karna bahwa semua ilmunya tidak akan dapat digunakan ketika sudah mendekati waktunya. Maka terjadilah Karna tidak dapat menggunakan ilmunya ketika melawan Arjuna dan keretanya terperosok sehingga matilah Karna terkena panah Pasopati.
  4. Arjuna yang mengetahui bahwa Abimanyu telah tewas kemudian bersumpah bahwa jika sampai matahari terbenam pembunuh Abimanyu belum mati maka ia akan membakar diri. Jayadrata sebagai pembunuh Abimanyu bersembunyi di bangunan besi agar jangan sampai diketahui oleh Arjuna. Kresna demi membantu Arjuna mengeluarkan senjata Cakra-nya untuk menutupi matahari sehingga seolah-olah hari itu telah habis dan Arjuna bersiap-siap untuk membakar diri. Semua prajurit Kurawa meletakkan senjatanya tak terkecuali Jayadrata yang penasaran menampakkan kepalanya. Dan tak diduga panah Pasopati melewat memenggal kepala Jayadrata, senjata Cakra pun diturunkan kembali, terlihatlah matahari sesungguhnya.

Karmapala

  1. Peristiwa Amba yang diboyong dengan adik-adiknya, Ambika dan Ambalika, ke Astina menyebabkan sampai terbunuhnya Dewi Amba oleh panah Dewabrata. Padahal Dewabrata hanya bermaksud untuk menakut-nakuti Amba dan memintanya menikahi orang lain saja karena dia sudah bersumpah wadat untuk tidak akan pernah menikah. Dalam hatinya sesungguhnya ia juga mencintai Dewi Amba. Maka sukma Dewi Amba pun akan menjemput Dewabrata untuk bersatu kembali saat kelak terjai peperangan Bharatayuda dan menitis pada prajurit wanita, yaitu Srikandi.
  2. Raja Mandaraka, Prabu Salya pun saat muda bernama Narasoma merasa malu memiliki mertua seorang raksasa. Maka Resi Bagaspati yang mengerti maksud menantunya bersedia mengorbankan nyawanya dan menyerahkan ajian Candra Bhirawa kepada Narasoma. Tapi saatnya perang Bharatayuda nanti jika ada raja yang berdarah putih maka Narasoma harus menyerahkan nyawanya. Maka Prabu Puntadewa yang menghadapi Prabu Salya di palagan Kurusetra dan aji-aji Candra Bhirawa pun meninggalkan pemiliknya karena tunduk pada raja yang berdarah putih itu.
  3. Saat lakon Kresna Gugah, Sri Kresna yang sedang tidur di Makambang sukmanya naik ke kahyangan dan mendengarkan wedhar jalannya perang Bharatayuda oleh Bathara Narada. Selesai diwedhar, sukma Arjuna menyusul sukma Kresma. Tetapi para Kurawa datang dan membangunkan Kresna tanpa sopan santun, sehingga Kurawa pun disumpahi bahwa mereka akan dihabisi di Bharatayuda. Maka terjadilah 100 orang Kurawa beserta Sengkuni dan antek-anteknya tak bersisa di tangan Pandawa
  4. Prabu Baladewa walaupun tidak ikut berperang dalam Bharatayuda juga memetik buah pekerjaanya. Ia yang mengantarkan Kurawa untuk menyusul tapa Kresna di Bale Makambang. Maka Baladewa tidak bisa moksa bersama para Pandawa dan ia harus mengasuh Perikasit dalam masa tuanya. Baladewa kemudian mati terkena senjatanya sendiri, Nenggala, ketika akan menaklukkan banteng mengamuk.
  5. Dhestarastra dan Gendari tentu merasakan kesedihan mendalam karena keseratus anaknya menemui kematiannya di Bharatayuda. Ketika perang berakhir, Pandawa minta restu kepada paman Dhestarastra di Astina agar tercipta ketenteraman di pemerintahannya mendatang. Dhestarastra berkehendak untuk memberikan restu pada Werkudara. Tapi oleh Kresna diperingatkan agar Werkudara mengulurkan gadanya saja. Saat itu juga gadanya hancur lebur karena Dhestarastra mengeluarkan aji Lebur Sekethi. Werkudara marah bukan kepalang akibat perbuatan pamannya itu. Akibat malu, Dhestarastra dan istrinya menyingkirkan diri ke hutan. Dewi Kunthi menyusul mereka. Gendari yang merasa kecewa akibat matinya Kurawa akibat liciknya Sri Kresna menyumpahi agar bangsa Yadawa, Wersni dan Andaka sirna di muka bumi. Kresna yang mengetahui hanya tersenyum simpul dan berkata bahwa Dhestarastra dan Gendari akan mati oleh api. Maka suatu hari saat Dhestarastra sedang makan, timbullah api yang berkobar membunuh Dhestarastra, Gendari dan Dewi Kunthi saat itu juga.
  6. Pandawa pun tidak luput dari hal ini. Ketika ada dua resi yang datang dan bersedia sebagai tumbal kemenagan Pandawa, yaitu Resi Ijrapa dan Resi Hirawan, Pandawa diberikan kesempatan untuk mengajukan permintaannya. Arjuna sebagai perwakilan Pandawa mengutarakan bahwa ia meminta kemenangan Pandawa. Maka ketika para resi telah tiada, Kresna bertanya apakah para putra Pandawa telah didoakan. Sedih seketika hati Arjuna. Maka di perang Bharatayuda nanti banyak putra Pandawa yang mati sementara Pandawa lima akan tetap utuh.
  7. Sri Kresna pun meskipun tidak terkena karmapala, akan mengikuti jalannya Pandawa moksa. Di masa tuanya Kresna menjalani yoga brata di tengah hutan. Tak diduga suatu hari ada seorang pemburu bernama Ki Jara yang sedang memburu kijang. Tanpa sengaja ia melepaskan anak panahnya dan mengenai kaki Kresna. Kresna mengucapkan terima kasih pada Ki Jara yang memberikan jalannya dan matilah ia saat itu juga dengan terangkatnya Bathara Wisnu kembali ke kahyangan

disadur dari Panjebar Semangat edisi 32 (9 Agustus 2014), ditulis oleh Winardi S Nugrahanto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s