Sendratari Ramayana Prambanan – 9 Agustus 2014

Setelah sekian lama pengen nonton sendratari Ramayana secara live, akhirnys kesampaian juga 9 Agustus kemarin. Untuk beli ticket-nya disarankan untuk pesan/booking via telepon dulu jauh-jauh hari sebelumnya. Kami pun demikian sehingga mendapatkan tempat duduk tengah dan paling depan šŸ˜€ Sekitar jam 5 sampai di area Prambanan, kami menukarkan ticket sendratari terlebih dahulu untuk memastikan telah mendapatkan yang telah dipesan, baru kemudian main-main sebentar di area candi karena pukul 6 ketika sudah petang pengunjung sudah diminta untuk meninggalkan area candi. Sekitar pukul 7, kami masuk ke area teater sendatari. Karena hari itu malam Minggu dan saat menjelang bulan purnama, banyak sekali turis yang akan menonton, mulai dari wisatawan mancanegara maupun para murid yang berdarmawisata. Sampai di area panggung, setelah mempersiapkan semua bekal untuk menikmati pertunjukan, kutipan dari Resi Walmiki, penggubah karya sastra Ramayana, terpampang di atas panggung. Tak berapa lama, sekitar pukul 7.30pm para pengrawit masuk ke arena pertunjukan dari atas panggung (karena memang panggungnya bertingkat dengan latar belakang pemandangan Candi Prambanan). Setelah prosesi pembukaan sebentar, dua orang MC masuk membuka acara malam itu. Kisah malam itu adalah Anoman Duta, menceritakan salah satu babak Ramayana dimana Anoman diutus oleh Rama untuk mencari istrinya, Sinta, yang diculik oleh Rahwana. Babak pertama dimulai dengan tarian dari para pasukan kera anak buah Prabu Sugriwa. Rama, Lesmana dan Sugriwa masuk kemudian untuk menyapa para pasukan kera. Demi mencapai tujuannya mencari Dewi Sinta, Rama memerintahkan Anoman dan beberapa kawannya dengan membawa cincin milik sang Rama untuk kemudian diserahkan kepada Sinta sebagai bukti cintanya. Berangkatlah Anoman dengan diiringi oleh Anila, Anggada, dan Jembawan. Karena perjalanan yang cukup jauh dan mereka kelelahan, Anoman dan rekan-rekannya pun beristirahat. Di tengah istirahatnya, para utusan Rama tersebut didatangi oleh Dewi Sayempraba dan para dayangnya. Tanpa diketahui oleh Anoman bahwa Dewi yang cantik jelita itu sesungguhnya adalah selir dari Rahwana. Karena tipu muslihatnya, Anoman dan kawan-kawannya diracuni sampai tidak dapat melihat. Demikianlah mereka meneruskan langkah dengan terseok-seok dan saling berpegangan satu sama lain. Di tempat lain, para burung sedang mencari cara berusaha untuk dapat menyempuhkan pimpinan mereka, Sempati, dari penyakitnya.

Tak berapa lama, datanglah Anoman dan saudara-saudaranya ke tempat para burung berkumpul. Karena merasa saling membutuhkan, Anoman dan Sempati saling bersepakat untuk saling menyembuhkan. Dengan kesaktiannya, Sempati menyembuhkan para kera yang sedang kesusahan tersebut.

Dan demi menepati janjinya, Anoman membantu Sempati untuk menyembuhkan penyakitnya sehingga dapat mengepakkan sayap kembali.

Selain menceritakan kejadian yang mereka alami, Anoman mengutarakan tujuan dari perjalanan jauh mereka yaitu untuk ke kerajaan Prabu Rahwana. Sempati sebagai seorang burung yang sakti dan pernah menjelajah luas daerah tentu mengetahui letak kerajaan Alengka. Maka dibantulah Anoman oleh Sempati untuk dapat melompat jauh menyeberangi lautan sampai ke Alengka.

Sementara itu, di taman Argasoka di kerajaan Alengka, Dewi Sinta yang selalu murung berusaha untuk selalu dihibur oleh Trijata.

Rahwana, sebagai penculik Sinta, selalu berusaha untuk menggoda Sinta dan tak bosan-bosannya meminta Sinta untuk menjadi istrinya.

Tapi segala usaha Rahwana untuk mendekati Sinta selalu dihalang-halangi oleh Trijata.

Hal itu tentu menjadikan Rahwana murka sampai menghunus kerisnya. Tetapi mengingat Trijata adalah keponakannya sendiri, diurungkannyalah niat mencelakai Trijata dan akan mencoba mendekati Sinta di lain kesempatan.

Sepeninggal Rahwana, masuklah Anoman ke taman keputren tersebut. Demi menjalankan tugasnya dari sang Rama, diserahkannyalah cincin Rama kepada Dewi Sinta. Dan sebagai bukti cintanya, Sinta menyerahkan kalung untuk disampaikan kembali kepada Rama. Maka Anoman pun undur diri dari taman itu. Dari pertemuan itu lah tumbuh benih asmara antara Anoman dengan Trijata. Sebelum kembali ke kerajaan Sugriwa, maka berinisiatiflah Anoman untuk mengelilingi kerajaan Alengka bermaksud untuk membuat keonaran. Para penjaga taman sedang bersuka ria. Melihat ulah Anoman, maka terjadilah perang antara mereka. Karena para prajurit kewalahan, maka Indrajit sang putra mahkota, melepaskan panahnya untuk meringkus Anoman. Di istana kerajaan Alengka, Prabu Rahwana sedang dihadap oleh para kawulanya. Indrajit kemudian datang menghadapkan Anoman sebagai pembuat onar di kerajaan Alengka. Begitu dekat dengan Rahwana maka dengan berani Anoman pun memukul Rahwana walaupun kemudian dijatuhkan kembali. Rahwana yang menghunus kerisnya kemudian ditahan oleh Wibisana, adik dari Rahwana. Hal itu tentu membuat Rahwana kecewa dan marah pada adiknya yang dianggap pengkhianat itu. Maka diusirnyalah Wibisana dari kerajaan Alengka. Rahwana memerintahkan Anoman untuk dibakar saat itu juga. Anoman yang diarak ke alun-alung kota Alengka dimasukan ke bara api yang menyala. Tapi karena kesaktiannya, api itu tidak membakar tubuhnya, justru ia dengan mudah melepaskan diri dan membawa api ke seluruh penjuru ibukota Alengka. Api yang dibawa Anoman itu menyambar ke semua sudut ibukota Alengka, sehingga fragmen ini sering disebut Alengka obong. Demikianlah babak ketiga dari Ramayana yang ditampilkan oleh Sendratari Prambanan itu berakhir šŸ™‚

4 thoughts on “Sendratari Ramayana Prambanan – 9 Agustus 2014”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s