Rangga Lawe Gugur (Paramabudaya 2014 – 10 Mei)

Bandung, 10 Mei 2014. UKM Djawa Tjap Parabola kembali mengadakan perhelatan dengan pagelaran yang setiap tahunnya diperingati dan dinamakan Paramabudaya. Kali ini lakon yang ditampilkan adalah Ketoprak Oplosan dengan judul Rangga Lawe Gugur, suatu cerita rakyat yang terambil dari Serat Damarwulan yang ditulis pada zaman kejayaan Mataram. Acara dimulai sekitar pukul 19.00 dan layar panggung masih tertutup. Penonton disuguhi alunan lagu-lagu pembukaan dari pemain keroncong UKM Djawa Tjap Parabola. Tak berapa lama setelah tim keroncong mempersembahkan beberapa lagu, masuklah MC ke atas panggung untuk membuka acara malam itu. Acara pagelaran akbar ini merupakan penutupan dari rangkaian acara Paramabudaya 2014 dan prosesi penutupan dilakukan di awal acara. Pembina 2 UKM Djawa Tjap Parabola memberikan sambutan sebelum pertunjukan ketoprak dipentaskan. Paramabudaya 2014 pun resmi ditutup dengan ditancapkannya gunungan Paramabudaya. Tablo dibuka dengan dipentaskan di tengah Gedung Serba Guna (GSG) IT Telkom. Dipertunjukkan Jaka Umbaran sedang bertapa dan mendapat wangsit untuk menguasai tanah Jawa bagian timur. Maka ia pun mengikuti sayembara yang diadakan Ratu Kencana Wungu, raja Majapahit saat itu, untuk memadamkan pemberontakan Kebo Marcuet dan barangsiapa yang sanggup membunuh Kebo Marcuet akan dijadikan suami oleh sang ratu. Bertarunglah Jaka Umbaran dengan Kebo Marcuet dan kesaktian Jaka Umbaran akhirnya dapat membunuh Kebo Marcuet. Seusai mayat Kebo Marcuet diusung oleh para pengikut Jaka Umbaran, rombongan bencong tampil di tengah para penonton sebagai salah satu TradeMark dari UKM Djawa. Layar panggung dibuka kembali dan babak pertama menampilkan kadipaten Surabaya yang dipimpin oleh Jayanegara. Datanglah Menak Jingga, sang Jaka Umbaran yang telah menjadi buruk rupa dan berkaki timpang seusai bertempur habis-habisan dengan Kebo Marcuet, ke kadipaten Surabaya. Menak Jingga ingin meminta dukungan Jayanegara untuk menagih janji kepada Ratu Kencana Wungu sekaligus untuk menguasai tanah Jawa bagian timur. Jayanegara tentu menganggap adipati Blambangan itu kurang ajar karena berani mengutarakan maksud yang demikian. Pertarungan pun tak terhindarkan hingga akhirnya Jayanegara terbunuh di tangan Menak Jingga. Para pengikut Menak Jingga berkumpul untuk merencanakan strategi pemimpinnya selanjutnya. Datanglah Menak Jingga dengan Dayun, pembantu setianya. Mendapatkan pesan dari pamannya, Menak Koncar sang adipati Lumajang, segeralah dibawanya pasukannya untuk datang menghadap sekaligus untuk melancarkan niatnya menguasai tanah Jawa bagian timur. Sementara itu di kadipaten Lumajang, Menak Koncar dan istrinya sedang dihadap oleh para prajuritnya. Menak Jingga datang menghadap memenuhi panggilan dari pamannya, sekaligus untuk meminta dukungan dari Menak Koncar untuk menagih janji sang Ratu. Mendengar permintaan Menak Jingga, marah pulalah Menak Koncar. Dihardiknya dan diusir keluar untuk ditantang bertempur. Sekeluar Menak Jingga, Menak Koncar yang hendak menghadapi keluarga sekaligus musuhnya itu dihadang oleh sang istri yang berat hati melepaskan kepergian suaminya. Adu mulut antara Menak Jingga dan Menak Koncar mewarnai adegan kedua pasukan yang telah saling behadapan di alun-alun Lumajang. Pertempuran antara pasukam Blambangan dan Lumajang pun terjadi. Pertempuran akhirnya dimenangkan oleh pasukan Blambangan dengan akhirnya Menak Jingga menaklukkan pamannya. Seusai babak 2, bintang tamu naik ke panggung untuk menghibur penonton dan membagi-baagi door prize. Datanglah Mentarwati, istri dari Menak Koncar, mendatangi para abdinya yang sedang bersendau gurau. Datang kemudian Menak Jingga menemui Mentarwati. Dikabarkan oleh Menak Jingga bahwa Menak Koncar telah dikalahkan olehnya, sedihlah hati istri Menak koncar itu. Terbersit di benak oleh Menak Jingga untuk mengambil Mentarwati menjadi istrinya. Mentarwati yang dalam kondisi sedih merasa tidak sudi diperistri Menak Jingga yang bertubuh cacat dan telah membunuh suaminya, maka bunuh dirilah ia. Kunarpa Mentarwati dibawa oleh pasukan Menak Jinggo sambil terus berjalan ke Majapahit. Di sebuah kadipaten masih di wilayah Majapahit, adipati Sindura dan istrinya dihadap oleh para bawahannya. Menghadaplah Menak Jingga ke adipati Sindura untuk mengutarakan niatnya sama seperti yang diutarakannya kepada pamannya. Akan tetapi mendengar sepak terjang Menak Jingga yang menaklukkan banyak kadipaten di wilayah Majapahit tentu membuat pengikut setia Majapahit itu tidak berkenan. Terlebih ketika Menak Jingga membawa masuk kunarpa Mentarwati dan seketika meledaklah tangis istri adipati Sindura mendapati anaknya dalam kondisi tak bernyawa. Diusirnya Menak Jingga dan dikirimlah surat kepada Ratu Kencana Wungu mengenai sepak terjang Menak Jingga yang menjadi-jadi. Sementara itu di istana Majapahit, para punggawa kerajaan sedang bersenang-senang dengan memanggil hiburan para penari Gambyong. Ratu Kencana Wungu hadir di pasewakan menanyakan kondisi kerajaan saat ini. Tampak hadir menghadap Patih Loh Gender dan Menak Koncar yang belum mati sesungguhnya. Dilaporkanlah mengenai Menak Jingga yang telah banyak menghabisi kadipaten-kadipaten di wilayah kerajaan Majapahit. Tak lama datanglah utusan dari adipati Sindura menyampaikan hal yang sama mengenai sepak terjang Menak Jingga. Setelah mendapatkan pertimbangan dari Patih Lohgender maka dikirimkanlah surat balasan untuk adipati Sindura dan untuk mengatasi Menak Jingga akan diutuslah Rangga Lawe, sang adipati Tuban, untuk memadamkan aksi sang adipati Blambangan. Surat balasan dari Sang Ratu pun diterima oleh adipati Sindura. Maka dengan perintah sang Ratu, Sindura bergegas untuk menyongsong Menak Jingga beserta pasukannya. Menghadapi Sindura dan pasukannya bukanlah hal yang sulit bagi Menak Jingga dengan segenap kesaktiannya. Sementara itu di kadipaten Tuban, adipati Rangga Lawe dihadap oleh para senopati dan prajuritnya. Datanglah utusan sang ratu menyampaikan surat yang memerintahkan Rangga Lawe untuk bersiap menghadapi sang keponakan, Jaka Umbaran. Rangga Lawe yang menyadari hakikatnya sebagai prajurit yang selalu siap sedia dengan segala perintah atasan, segera mempersiapkan diri dan pamit kepada keluarganya. Setelah berganti pakaian untuk bersiap berperang, Rangga Lawe segera berangkat ke alun-alun Lumajang dimana Menak Jingga tengah berjaga-jaga walaupun keluarga Tuban berat ditinggalkan. Bertemulah pasukan Blambangan dan pasukan Tuban, paman dan sang keponakan. Perang tak terhindarkan. Banyak pasukan yang gugur karena pertempuran tersebut. Hingga kemudian Rangga Lawe sendiri yang turun tangan untuk menghadapi para prajurit Blambangan dengan Payung Tunggul Naga-nya yang sakti. Rangga Lawe dengan Payung Tunggul Naga-nya kebal terhadap segala senjata. Mengetahui hal itu, Menak Jingga pun melesatkan anak panahnya menghujani Wangsapati, sang pembawa Payung Tunggul Naga, hingga akhirnya tewas. Mengetahui ia tak dilindungi oleh Payung Tunggul Naga lagi, Rangga Lawe kemudian berhadapan satu lawan satu dengan Menak Jingga. Perang antara paman dan keponakan itu berlangsung dengan sengit hingga Menak Jingga mengeluarkan Gada Wesi Kuning-nya dan berhasil melesatkan pukulan ke tubuh Rangga Lawe. Rangga Lawe yang telah mandi darah akibat pukulan Gada Wesi Kuning segera berdiri lagi dan menghadapi Menak Jingga sampai akhirnya berhasil memiting dan mengunci keponakannya. Ternyata Dewata berkehendak lain, di saat sudah di atas angin dan mengunci Menak Jingga, di saat itu lah nyawa Rangga Lawe dicabut hingga ia mati berdiri. Sebagai keponakan yang baik, mayat pamannya kemudian dibawa untuk dikebumikan di Blambangan. Pagelaran berakhir dan para pemain mengucapkan terima kasih atas atensi para penonton.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s