Taman Nasional Gunung Halimun (12-13 Nov 2011)

Kembali, ketika bongkar-bongkar galeri lama ditemukanlah foto-foto saat kami touring ke Gunung Halimun Salak Jawa Barat.
Waktu itu tanggal 12 – 13 November 2011, kami bertiga dengan 2 motor berangkat pagi buta dari Depok menyusuri jalan untuk ke taman nasional ini.

Sekitar pukul 8 (kalau tidak salah ingat) kami sudah sampai di perkampungan menjelang masuk ke gerbang taman nasional ini.
Salah satu hal yang tidak terlupakan adalah jalan dari perkampungan yang semakin menyempit (bahkan hanya muat dilewati 1 mobil saja) bahkan hanya berupa jalan setapak yang berbatu dan berlumpur.

Akhirnya kami temukan juga gerbang selamat datang di taman nasional Gunung Halimun ini.
Setelah bertanya pada truk yang lewat dijawab perjalanan sekitar 1 jam lagi.
Kami pun melaju kembali.
Apa yang anda pikirkan setelah membaca peringatan adanya hewan-hewan di atas, sementara dengan jalan yang rumpil berbatu-batu dan hanya kami yang melewatinya di tengah hutan.
Hanya beberapa kali kami berpapasan dengan beberapa warga yang berombongan naik motor pula.

Yah, benar.
Kami berjalan di tengah hutan yang sepi, bukan perkampungan, sambil terus berdoa semoga selamat tidak menemui hewan buas atau ban tidak bocor.
Tentunya tidak ada tambal ban di tengah hutan.

Dan akhirnya kami menarik nafas lega telah sampai di stasiun penelitian di tengah Gunung Halimun ini.
Kami beristirahat sebentar di sini dan melihat-lihat konservasi tanaman yang ada di sini.
Dari beberapa referensi web yang kami temui ada jembatan gantung yang sepertinya didesain untuk menarik wisatawan.
Sayangnya saat kami di sana kondisinya tampak tidak terawat.

Kami meneruskan perjalanan untuk mencari penginapan setelah ditunjukkan oleh penjaga stasiun penelitian adanya perkampungan di dekat situ.
Maka benar saja di perkampungan kecil, tentu saja dengan jalan yang naik turun dan tidak beraspal, kami menyewa satu rumah penduduk untuk ditempati bertiga selama semalam.
Sorenya kami berjalan-jalan untuk melihat-lihat apa yang bisa dikunjungi.
Kami pun mampir di curug macan, semoga tidak bertemu dengan macannya di tengah jalan.

Maka dengan jalan yang lumayan terjal pula, kami menapaki jalan kecil yang menurun ke curug.
Sayangnya curug ini juga kurang terawat.
Ada kanopi dan jembatan kayu yang nampaknya sudah kotor dan reyot.
Dan jangan kecewa jika curug yang dimaksud adalah air terjun kecil yang mengalir ke kali.

Setelah puas melihat-lihat, kami kembali menapaki jalan setapak yang menaik untuk kembali ke penginapan.

Malam itu adalah malam yang tenang lagi dingin.
Tidak ada yang istimewa selain ketenganan dan memori akan kampung halaman.
Tidak ada sinyal adalah hal lain yang membuat tenang karena tidak teringat akan pekerjaan yang cukup membebani 😀

Paginya mentari pagi, hawa dingin, kan kabut tipis menyapa kami.

Lagi-lagi benar-benar karunia Yang Maha Kuasa ketika kita ada di alam bebas yang menyejukkan.
Bisa diliat bahwa benar-benar sepi dan jauh dari mana pun.

Sayangnya hari itu juga kami harus meninggalkan Gunung Halimun mengingat sudah hari Minggu.

Jalan setapak yang berbatu kembali kami lewati selama berjam-jam.
Tapi paling tidak perasaan kami sudah tenang, dibandingkan ketika melewati hutan yang sepi saat berangkat.

Dan hari itu pun berakhir bagi kami dengan menonton pertandingan Timnas melawan Thailand di Stadion Gelora Bung Karno.

Pengalaman yang tidak mungkin terlupakan 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s