Why Do We Write?

Tulisan adalah salah satu media dalam berkomunikasi, selain suara tentunya. Sudah sejak zaman dahulu, sejak ditemukannya simbol-simbol yang menggambarkan suatu makna yang disepakati bersama (bahkan hingga saat ini huruf-huruf kita pun merupakan simbol, bukan?) budaya menulis sudah dilakukan oleh umat manusia.

Saya pernah membaca warisan tulisan dari kakek saya yang pesan-pesannya disampaikan kepada semua anak-anaknya. Kalau tidak salah ingat, kira-kira isinya mengenai anjuran dari suatu majalah agar orang berusia lanjut mau meninggalkan suatu tulisan :

โ€œ Biarpun tulisan tersebut itu disimpan untuk dirinya sendiri saja. Kalau nanti sudah ditinggal mati, biarlah tulisan itu tetap terbuka untuk dibaca oleh siapa saja. Dari sekian banyak orang yang mau membacanya, tentu ada hal-hal yang dapat dipetik gunanya. Dalam hal ini anak atau cucu yang mewarisi tulisan tersebut, sebaiknya dapat memeliharanya dengan baik. Dan alangkah baiknya, apabila pada waktunya tulisan itu bisa sampai di tangan orang yang tepat. Maka apa yang dikandung di dalam tulisan itu akan memberi guna yang amat besar artinya.โ€

Dari situlah kemudian beliau membuat tulisan yang berisi riwayat kehidupannya, kisah-kisah dan pesan-pesan mengenai anak-anaknya satu per satu. Tentu saja tidak semua cerita terasa manis, tapi justru dari situlah banyak pengalaman yang dapat dipetik oleh anak cucunya.

Sejak beberapa tahun terakhir kebiasaan menulis menjadi suatu hal yang biasa bagi netizen society (khalayak pengguna internet), mulai dari menulis status di Facebook, Twitter, atau Path; mendiskusikan hal serius ataupun berjualan di Kaskus; dan tentu saja komunitas blogger yang hampir ada di berbagai kota besar yang menggunakan berbagai platform : WordPress, Blogspot, Kompasiana, maupun develop website sendiri.

Ya, semua orang menulis.
Media tidak lagi hanya didominasi oleh penguasa dan bersifat satu arah. Hal itu juga yang saya baca dalam bukunya Pepih Nugraha dalam usahanya merintis Kompasiana sampai sekarang media itu menjadi salah satu citizen journality yang terkemuka di Indonesia. Dan ia memulai bukan dengan mudah. Dalam bukunya berjudul “kompasiana:Etalase Warga Biasa” ia menuturkan bagaimana ia meyakinkan pemilik Kompas untuk menelurkan kompasiana, membuat agar kompasiana banyak dikunjungi orang, sampai dengan memoderasi sendiri setiap artikel yang ditulis.

Tetapi, sejatinya mengapa mereka menulis. Alasan-alasan yang dapat dikemukakan ketika pertanyaan ini dilontarkan akan dapat bermacam-macam, dan berikut ‘kemungkinan’ di antaranya :

Aktualisasi Diri
Status facebook / twitter / path adalah bukti bagaimana tulisan mencerminkan diri penulisnya, mulai dari aktivitasnya, kepribadiannya, pemikirannya, perasaannya, bahkan sampai dengan status sosialnya. Tentu saja ada kepuasan atau kebanggan sendiri ketika tulisan ini diakui (acknowledged) oleh orang lain, misalnya ketika status atau tulisan kita di-like atau di-retweet, artinya orang lain memiliki pandangan yang sama atau sekedar mengagumi apa yang kita tuliskan. Juga ketika uneg-uneg atau pemikiran kita kadang kala tidak diterima dalam dunia nyata, kita bisa menumpahkannya dalam dunia tulisan.

Memory Track Record
Sama halnya dengan memiliki buku diary, kita menuliskan apa yang terjadi pada diri kita mungkin hampir setiap hari. Dan ketika suatu saat kita membuka kembali tulisan kita dalam diary tersebut, kita akan menemukan kembali memory yang mungkin tidak terekam jelas dalam otak kita. Dan kemudian kita tersenyum-senyum sendiri :). Juga pengalaman-pengalaman masa lalu yang dapat dijadikan pelajaran di masa depan dapat kita rekonstruksi kembali dengan adanya goresan tulisan kita. Demikian juga ketika kita meninggalkan jejak tulisan di blog kita (seperti yang saya lakukan saat ini ๐Ÿ™‚ )

Membuat komunitas
Hal ini sama halnya dengan tulisan kita menjadi suatu media massa yang tentu saja dengan berbagai motif di baliknya. Ada yang bermotif sebagai propaganda idealisme atau konsepsi, ada sebagai media berjualan, atau sekedar membentuk komunitar nirlaba karena memiliki objek favorit yang sama. Ketika kita berhubungan dengan tulisan di dunia maya (dunianya netizen), hal ini tentu saja lebih ampuh dibandingkan dengan saat bung Karno dulu menulis dalam penjara dan harus menunggu sampai saatnya dipublikasikan (mungkin saat ini orang yang dipenjara dapat membuat blog pribadi sehingga pemikiran-pemikirannya dapat langsung tersampaikan pada khalayak).

Tentu akan ada banyak lagi motif dibalik kita membuat suatu tulisan. Apa pun itu, dengan kita menulis tentu banyak manfaat yang kita rasakan (selain tujuan dalam motif kita tercapai). Sama halnya dengan pelajar yang mempelajari suatu bab ketika akan ujian. Materi yang ia baca akan lebih ia mengerti (atau hafal) ketika ia belajar sambil menulis ulang, karena ketika kita menulis kita melakukan dua aktivitas sesungguhnya, yakni menulis dan membaca. Mungkin masih ingat dalam teori database bahwa effort untuk Write (W) lebih besar daripada untuk Read (R).

Selain itu dengan menulis, kita belajar untuk meng-kultivasi-kan pikiran kita. Semua orang pasti pernah melamun, entah apa pun yang dilamunkannya dan kadangkala ide dan pemikiran besar datang dari sana. Sayangnya dalam kondisi melamun seringkali kita dalam kondisi tidak siap untuk mendokumentasikannya dan ide kita pun menguap dimakan angin. Dengan kita menulis secara rutin, sama halnya dengan meditasi, kita terus menggali pikiran-pikiran kita menjadi tulisan. Bahkan ada orang yang menulis dan tangannya bergerak sendiri, artinya alam bawah sadarnya yang mengambil alih dan menuliskan apa yang sebenarnya di dalam benak orang tersebut. Semakin rutin menulis ini dilatih artinya semakin kita melatih pikiran-pikiran kita untuk bekerja dan pada akhirnya kita menjadi orang yang lebih produktif

Jadi, sudahkah kita menulis hari ini ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s