Pemimpin yang Memiliki Fokus

Baik, sekarang mari kita coba bahas lagi tulisan di HBR edisi Desember 2013 berjudul “The Focused Leader“. Menurut saya tulisan ini menarik karena tidak hanya menceritakan bagaimana seharusnya seorang pemimpin mengarahkan fokusnya tapi juga bagaimana orang pada umumnya juga mengontrol fokusnya, terutama dalam lingkungan organisasi atau pekerjaannya (sesuai dengan genre majalah ini).

Perhatian / atensi (attention) dapat dibagi ke dalam tiga bagian besar : fokus pada diri kita (focus on yourself), fokus pada orang lain (focus on others), dan fokus pada dunia yang lebih luas (focus on the wider world).

Seperti dikutip dari artikel tersebut “Every leader needs to cultivate this triad of awareness, in abundance and in the proper balance, because a failure to focus inward leaves you rudderless, a failure to focus on others renders you clueless, and a failure to focus outward may leave you blindsided.” diutarakan bagaimana pentingnya ketiga awareness atau fokus tersebut.

Bagian pertama adalah Focusing on Yourself.
Emotional Intelligence dimulai dengan self-awareness yang berhubungan dengan suara terdalam kita (inner voice). Yah, Self-Awareness adalah satu bagian dari fokus pada diri kita sendiri. Hal yang paling mudah adalah, ketika kita diam dan fokus pada detak jantung atau nafas kita (seperti halnya pada meditasi). Setelah kesadaran diri (self-awareness), hal yang kedua adalah pengendalian diri (self-control). Pengendalian kognitif adalah istilah ilmiah untuk menempatkan suatu perhatian (atensi) dimana kita menginginkannya dan menjaganya dari cobaan yang menghampiri. Fokus dalam hal ini sering juga disebut willpower (kekuatan keinginan).

Ada suatu penelitian di Selandia Baru pada tahun 1970an dimana anak-anak diberikan tes willpower, terkenal juga dengan “marshmallow test” dimana sang anak diberikan pilihan apakah memakan 1 marshmallow atau menunggu selama 15 menit dan mendapatkan 2 marshmallow. Hasilnya adalah sepertiga langsung memakannya, sepertiga lagi menahan beberapa saat, dan sisanya dapat menahan keinginannya selama seperempat jam. Bertahun-tahuk kemudian ketika anak-anak itu berusia 30-an, dicatat kembali dan didapatkan hasil bahwa mereka yang memiliki pengendalian kognitif dan menahan keinginan marshmallow lebih lama ternyata secara signifikan lebih sehat, lebih sukses secara finansial dan lebih patuh pada hukum daripada yang tidak dapat mengendalikan. Bahkan secara analisis statistik, tingkat pengendalian diri anak-anak merupakan alat prediksi kesuksesan finansial yang lebih kuat daripada IQ, kelas sosial atau keadaan keluarga.

Bagian yang kedua adalah Focusing on Others.
Ketika kita bicara mengenai empati biasanya ia merupakan satu atribut tunggal, tetapi dalam fokus sebagai pemimpin kita dapat membedakan menjadi 3 hal peting dalam efektivitas kepempinan :
– cognitive empathy (kemampuan untuk mengerti perspektif orang lain)
– emotional empatyh (kemampuan untuk merasakan apa yang orang lain rasakan)
– empathic concern (kemampuan untuk merasakan apa yang orang lain butuhkan dari kita)
Hal lain dari bagian ini adalah membangun hubungan (Building relationships). Sensitivitas sosial lebih banyak terkait dengan cognitive empathy dan atensi terhadap konteks sosial dapat membimbing kita untuk beraksi dengan kemampuan kita dalam situasi apa pun, secara insting mengikuti algoritma universal dari etiket, dan berperilaku yang dapat membuat orang lain nyaman.

Bagian yang ketiga adalah Focusing on the Wider World.
Yang terpenting dari bagian ketiga ini adalah bagaimana kita peka terhadap lingkungan dimana kita ditempatkan dan lebih luas lagi adalah dunia tempat kita tinggal. Salah satu poin dalam fokus ini adalah fokus terhadap strategi (dimana kita diajarkan bahwa strategi akan memiliki 2 elemen yaitu eksploitasi keuntungan sekarang dan eksplorasi hal-hal yang baru).

Mengutip lagi dari tulisan artikel “Focused leaders can command the full range of their own attention: They are in touch with their inner feelings, they can control their impulses, they are aware of how others see them, they understand what others need from them, they can weed out distractions and also allow their minds to roam widely, free of preconceptions.” Di sinilah tangtangan sebagai seorang pemimpin dimana bisa berfokus pada hal-hal tersebut : diri sendiri, orang lain, dan dunia luas. Hal ini bukanlah cuma teori tapi merupakan hal praktik yang sudah menjadi bagian dari seorang pemimpin.

Sudahkah kita menjadi pemimpin yang baik, mulai dari diri kita sendiri.
Semoga bermanfaat 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s