Mengelola Emosi

20140126-180901.jpg

Saat di rumah di kampung, saya ingat kalau saya pernah membelikan sebuah buku yang bagus untuk kekasih saya (waktu itu), yaitu buku untuk mengelola emosi. Bukan maksudnya bahwa kekasih saya emosian, bukan sama sekali,tapi sayangnya saat itu saya punya modus yang lain (tidak etis jika diutarakan). Dan beberapa waktu kemudian setelah berpisah buku itu saya ambil kembali. Singkat cerita buku itu berisi mengenai bagaimana seseorang mengelola emosinya sesuai Alkitab (dikarang oleh Joice Meyer yang sampai sekarang aktif dalam organisasi ministry-nya). Sayangnya, saya tidak sempat membaca buku itu kembali saat di rumah.

Mengapa saya tiba-tiba teringat dan menuliskan hal ini? Ada cerita menarik berkaitan dengan kepulangan saya saat ini. Ceritanya ikatan mahasiswa kampus saya meminta saya untuk menjadi pembicara dalam suatu acara semacam talkhow di SMA di kabupaten tersebut. Dari jauh hari saya sudah dihubungi untuk dimintai kesedian dan saya pun menyanggupi. Segera saya siapkan materi dan rencana perjalanan (tentu saja di era ini semua hal haru dipersiapkan jauh-jauh hari apalagi mengenai tranportasi).

Akan tetapi sayangnya, sehari sebelum hari H dimana saya sudah tiba di rumah, saya hubungi kembali para panitia dan datang berita mengejutkan bahwa acara dibatalkan karena masalah perizinan dan baru diputuskan sehari sebelumnya juga. Tentu saya sesalkan kenapa tidak diberitahukan kepada saya. Apa yang akan anda rasakan jika situasi ini terjadi pada anda? Marah? Jengkel? Saya merasa biasa saja. Apakah ini berarti bahwa saya sudah menguasai emosi? Mungkin, saya juga tidak bisa menjawab secara pasti.

Semua berangkat dari motivasi dan sudut pandang kita. Pertama, mengenai motivasi. Motivasi saya untuk datang dan menyanggupi panitia adalah membantu dan mendukung adik-adik kelas saya. Jadi ketika mereka telah mempertimbangkan dan memutuskan bahwa acara dibatalkan maka saya pun harus mendukung juga bukan? Kedua, mengenai sudut pandang. Jika dirasakan sudah pasti banyaka kerugiana yang saya alami, mulai dari mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya. Tetapi coba kita pikirkan lebih dalam lagi, masih banyak hal yang saya dapatkan ketika saya pulang : refreshing sejenak dari ibukota yang sesak dan dilanda banjir, bertemu orang tua dan keluarga bahkan bisa menengok anak dari kakak sepupu yang baru saja lahir, membawakan stnk kekasih saya yang baru dipajakkan, mengambil kamera saya yang saya tinggal sebelumnya, dan hal-hal intangible lainnya.

Jadi dibalik semua kekecewaan pasti ada suatu hal yang bisa kita syukuri. Mungkin hal lain dalam diri saya adalah tidak bisa marah, paling banter adalah menunjukkan ekspresi jengkel di wajah saya, tapi saya tidak sampai hati untuk memarahi orang lain walau darah sampai di ubun-ubun. Sebenarnya hal ini pun bisa menjadi kelebihan sekaligus menjadi kekurangan. Untung saya punya hal lain dalam berekspresi, terutama dalam musik. Jadi intinya adalah bagaimana kita mengelola emosi kita. Emosi bukan selalua berarti kemarahan, tapi setiap perasaan yang dapat kita rasakan akibat dari lingkungan kita.

Saya pernah membaca suatu quote yang demikian : “jika kita dipenuhi oleh kemarahan, kita hidup di masa lalu. jika kita hidup dengan kekhawatiran, kita hidup di masa depan. jika kita dipenuhi oleh kedamaian, kita hidup di masa sekarang”

Jadi marilah kita hidup di masa sekarang, berdamai dengan diri dan lingkungan kita, serta kasih Tuhan selalu meyertai kita.

Semoga bermanfaat 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s