Amung Godhong


Berawal dari kebaktian di siang hari ini, ada kidung yang berjudul “Amung Godhong” sebagai kidung penyesalan (Kidung Pasamuwan Kristen 162)
Karena sang doi tidak begitu paham arti liriknya, coba kita tulis.
Lagu ini berdasar dari Markus 11 : 13.

Markus 11:13 Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara.

Dan lirik lagunya, seperti dapat kita jumpai di sini, sebagai berikut :

Bait 1
Amung godhong, lan ta adhuh (hanya daun, aduh)
Gusti nganti muwun (Tuhan sampai menangis)
Dene ngupados wohira (sementara mengusahakan buahmu)
katemenan miwah tresna (dengan sungguh-sungguh dan dengan kasih)
nanging kang pinanggya (tetapi yang ditemui)
amung godhong, amung godhong (hanya daun, hanya daun)

Bait 2
Amung godhong, adhuh lae (hanya daun, aduh)
Datan ana wohe (tidak ada buahnya)
Saiba ta bilainya, (betapa celakanya)
Yen kadhawuhan supata (jika diperintahkan bersumpah)
Awit kang kadarbya (sebab yang dimiliki)
Amung godhong, amung godhong (hanya daun, hanya daun)

Bait 3
Amung godhong, dhuh bilai (hanya daun, aduh celaka)
yen ndungkap ing janji, (jika menjelang janji)
mari jamaning kawlasan, (setelah saat dikasihi)
kari jaman pangadilan (tinggal saat pengadilan)
mangka kang kawuryan (padahal yang tertinggal)
amung godhong, amung godhong (hanya daun, hanya daun)

Bait 4
Mung godhong, mung kembang lambe (hanya daun, hanya bunga bibir)
ujar tanpa gawe; (ucapan tanpa tindakan)
kang sinebar gung kadarman (yang ditabur kebaikan)
kang thukul mung kasaguhan (yang tumbuh hanya kesanggupan)
tembung tembung lahan (kata-kata kosong)
amung godhong, amung godhong (hanya daun, hanya daun)

Bait 5
Amung godhong, Gusti rawuh (hanya daun, Tuhan datang)
mriksa kang tumuwuh (memeriksa yang tumbuh)
playunira menyang ngendi ? (larimu kemana)
Lamun wohira mung dami (jika buahmu hanya batang padi)
mung pakaning geni (hanya untuk dibakar)
amung godhong, amung godhong (hanya daun, hanya daun)

Mungkin terjemahan harafiahnya seperti itu, walaupun ada makna yang lebih dalam.
Konteks / latar belakang dasar ayatnya adalah ketika Yesus menjumpai pohon ara yang tidak berbuah dan kemudian mengutuknya.
Maka lagu dengan lirik seperti di atas ditulis dengan gaya seperti puisi (atau mungkin puisinya ditulis dahulu baru kemudian diadopsi menjadi lagu, sayangnya tidak ada keterangan lebih lanjut di buku kidung).
Intinya adalah, mari kita menyadari kondisi kita yang belum berbuah apa-apa. Oleh karenanya lagu ini dinyanyikan sebagai kidung penyesalan dosa.

Semoga bermanfaat 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s