Dewa Ruci – (Taman Budaya Jatim 24 Agt 2013)

Mumpung di Surabaya 2 minggu ini, saya menyempatkan untuk mencari hiburan pertunjukan.
Setelah ke sebuah gedung Ludruk yang ternyata di malam minggu itu tidak main, saya melihat poster adanya pertunjukan wayang orang di taman budaya Jatim (Cak Durasim) malam itu dan segeralah saya kesana.
Ternyata di tempat itu diadakan pertunjukan kesenian secara gratis untuk masyarakat setiap malam minggunya.

Lakon kali ini adalah Bratasena Ngrawuh (atau lakon yang lumra dalam pewayangan adalah Dewa Ruci), menceritakan tentang Bratasena yang mencari guru sejati.
Pertunjukan dibuka dengan tari-tarian oleh para penari cilik.

Tari merak juga dipertunjukkan.



Tari Serimpi dari Solo yang cukup menarik dengan taburan bunga.

Tablo dibuka dengan latar sebuah hutan yang diilustrasikan dengan penari putra yang membawa gunungan besar, melambangkan pohon, dan para penari putri. Bratasena datang dan menumbangkan pohon-pohon tersebut. Diceritakan bahwa Bratasena mendapatkan tugas dari gurunya, Resi Durna, untuk mencari kayu gung susuhing angin, pohon besar tempat angin bersarang. Sebuah tugas yang memang mustahil dilakukan, tapi dengan ketulusan hati yang menaati perintah gurunya untuk menemui guru sejati.

Tiba-tiba muncul dua raksasa yang menghalangi niat Bratasena hingga terjadilah pertempuran. Pertarungan antara Bratasena dengan Ditya Kalarukma dan Rukmakala itu dimenangkan oleh sang ksatria. Dan berubahlah kedua raksasa terebut ke wujud aslinya sebagai Bathara Indra dan Bathara Bayu. Para dewa memberitahu kepada Bratasena bahwa yang ia cari sebetulnya tidak ada dan memerintahkan untuk kembali kepada gurunya.

Berganti adegan berlatar di kerajaan Astina, Prabu Duryudana sedang disowani oleh para kerabat kerajaan, seperti Patih Sengkuni, guru Durna, resi Bisma, Prabu Salya, Raden Karna, dan bala Kurawa lainnya. Prabu Duryudana menyampaikan kekhawatirannya akan keberadaan para Pandawa yang dapat mengancam keberadaan Kurawa dengan meminta haknya atas Astina kembali. Resi Durna menyampaikan agar para Kurawa tidak perlu khawatir, karena salah satu jago Pandawa, yaitu Bratasena, sudah disuruh olehnya untuk melakukan tugas yang mustahil dengan memasuki hutan yang kelewat angker dan dapat dipastikan mati.

Namun, alangkah kagetnya Resi Durna dan para Kurawa mengetahui Bratasena sowan dalam keadaan sehat wal afiat. Diceritakanlah oleh Bratasena bahwa kayu gung susuhing angin itu tidak ada, malah bertemu dengan Bathara Bayu dan Bathara Indra, diberikan restu dan petunjuk bahwa untuk mencari guru sejati dapat ditemukan dengan mencari Tirta suci prawitasari yang ada di lautan minang kalbu.

Seberangkatnya Bratasena untuk melanjutkan tugas dari gurunya, Resi Durna menenangkan para Kurawa dan memastikan bahwa Bratasena pasti akan mati karena tugas yang mustahil tersebut. Untuk itu, bersiapsiagalah para bala Kurawa dan prajuritnya untuk menyusul menyongsong kematian sang Bima Sena.

Di saat Karna dan Sengkuni sedang mempersiapkan para prajurit Kurawa yang akan bertolak, datanglah sang panengah Pandawa, Raden Janaka, yang tidak diterima akan perlakukan gurunya dengan diberikannya tugas yang mustahil bagi kakaknya. Tapi karena dilerai oleh Karna, Janaka yang tidak takut pada para Kurawa itu memilih untuk mundur kembali ke Ngamarta.

Sementara itu para saudara sedarah seperguruan dari Bima Sena, yaitu para Kadang Bayu, para murid dari Bathara Bayu, berniat untuk menghalang-halangi tekad si panegak Pandawa itu. Mereka adalah Resi Maenaka, Anoman, Liman (gajah) Situbanda, dan Garudha Mahambera.

Bratasena yang hendak lewat dihalang-halangi oleh para kadang Bayu, sehingga sempat terjadi pertempuran saudara seperguruan.
Tapi karena kekuatan tekad dari sang Bima Sena, maka langkahnya pun tidak dapat terbendung.

Sementara itu, di perjalanan para panakawan sedang bercanda bersendau gurau untung menghibur para penonton.

Di Ngamarta, para Pandawa termasuk ibu Kunthi, Dewi Drupadi dan Prabu Kresna sedang berkumpul, membicarakan mengenai tugas Bratasena yang mustahil untuk dilaksanakan.

Tapi sekuat apa pun para kerabat menghadangnya, tekad yang bulat dari sang Sena tidak dapat terhalangi oleh apa pun jua.

Berganti latar di samudera dengan ombak yang membiru dan buih-buih yang memutih, diilustrasikan dengan indah oleh para penari.

Bratasena masuk ke samudera menyibak lautan. Dicarilah sang guru sejati yang konon ada di dasar lautan Minang Kalbu. Apa pun yang merintanginya akan disingkirkan, episode ini banyak diilustrasikan dalam bentuk patung sang Sena yang dililit oleh ular hijau dan menancapkan kuku Pancanaka-nya ke tubuh sang Ular.

Hilang wujud sang ular, muncul sosok yang mengagetkan sang Bratasena. Sosok anak bajang yang berpenampilan persis dengan sang Sena. Diperkenalkan dirinya sebagai sang Dewa Ruci, guru sejati yang dicari Bratasena. Hanya di episode ini lah, sang Sena berujar sopan dengan krama alus kepada lawan bicaranya.

Pembabaran sang Guru sejati diilustrasikan dengan bayang-bayang dari wayang kulit.

Paripurna menerima pembabaran dari sang Dewa Ruci, bergantilah penampilan Bratasena menjadi lebih bersinar-sinar. Perubahan ini dapat diilustrasikan dengan berbeda-beda di setiap pagelaran. Kali ini, digambarkan dengan mengganti gelung sang Sena yang tadinya terurai menjadi gelung Sapit Urang.

Prabu Kresna, Janaka dan kembar Nakula – Sadewa yang datang menyusul panegak Pandawa itu berhasil bertemu dengan yang dicari dan mengajak untuk kembali ke Ngamarta. Tapi Bratasena belum mau pulang sebelum melapor kepada sang guru yang telah memberikan tugas padanya.

Mendadak, para bala Kurawa menyerang para Pandawa yang tengah berkumpul itu. Pertarungan tidak dapat dihindari, sampai dengan Janaka harus berhadapan satu lawan satu dengan Basukarna.

Di tengah pertarungan Janaka – Basukarna datang Resi Durna sebagai guru mereka melerai kedua saudara seibu itu. Datang juga Raden Bratasena yang telah selesai menjalankan tugas dari Durna mencari guru sejati di dasar Samudera. Sebagai wujud baktinya kepada sang guru, diangkat dan digendongnya lah Resi Durna.

Tutup Layar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s