Sena Bumbu – WO Sriwedari 7 Agustus 2013

Akhirnya kesampaian juga, nonton wayang orang Sriwedari di Solo sambil memotret-motret.
Malam itu, malam takbiran tapi WO Sriwedari tetap melakukan pementasan seperti biasa bahkan tanggal 7-8 Agustus diadakan pementasan spesial wayang remaja dengan harga tiket agak spesial (Rp10 ribu, sedikit lebih mahal dibandingkan harga biasa Rp3 ribu).
Saya menonton berdua dan penonton wayang orang tetap ramai seperti adatnya.
Wayang orang remaja kali ini mempertunjukkan lakon “Sena Bumbu”.

Petunjukan dibuka dengan sajian tari Gambyong oleh putri-putri wayang orang Sriwedari.



Usai sajian tari, sinopsis cerita dan nama-nama pemeran dibacakan oleh mas Putra Solo.
Agaknya ini salah satu cara untuk menarik wisatawan ๐Ÿ˜€

Panggung dibuka dengan tablo yang mempertunjukkan lakon bale sigala-gala ketika Purucona membakar pesanggrahan tempat Pandawa dan Kunthi berisitirahat yang kemudian ditolon oleh garangan putih.

Adegan pertama menampilkan latar kerajaan Ekacakra di mana para yaksa menanti kehadiran raja mereka.

Datanglah raja kerajaan Ekacakra, Prabu Baka yang terkenal sadis dan tidak kenal ampun.
Hari itu sang raja mengeluh bahwa ia sangat lapar dan menginginkan daging manusia, ternyata saat itu adalah giliran dukuh Manahilan untuk mempersembahkan daging manusia kepada Prabu Baka. Segera diperintahkannyalah para prajuritnya untuk segera membawa santapannya ke hadapan raja.

Semua raksasa bawahan sang Prabu Baka segera berangkat, termasuk buta cakil dan komplotannya.

Sementara itu, berganti latar, para panakawan yang mengawal bendara mereka sedang bersuka ria sambil bernyanyi menghibur para penonton.

Tak berapa lama, setelah para panakawan puas bersendau gurau, datang bendara mereka, Raden Permadi, yang kemudian digoda oleh cakil.

Maka perang kembang antara raden Permadi dan si cakil pun tidak terhindarkan.

Kejahatan selalu dikalahkan oleh kebaikan, demikianlah Raden Permadi akhirnya berhasil menusukkan keris ke perut sang cakil.

Dengan matinya cakil, keluarlah para yaksa lainnya untuk melawan Permadi.
Perang itu pun juga dimenangkan oleh sang satria.

Berganti adegan di sebuah tepi hutan, tampak raden Puntadewa yang sedang menanti saudara-saudaranya.

Tak lama, datanglah raden Permadi yang menghadap.

Disusul kemudian oleh raden Pinten dan raden Tangsen, sang kembar adik raden Puntadewa.

Datang kemudian Bratasena dan ibu mereka, Dewi Kuthi Talibrata.
Dewi Kunthi menasihati para putranya agar tetap sabar dalam menghadapi cobaan yang sedang mereka hadapi.

Namun, sang kembar raden Pinten dan Tangsen sambat karena mereka kelaparan.
Hal itu sangat menjadikan hati ibu dan saudara-saudaranya sangat sedih.

Dewi Kunthi yang berniat untuk menjual rambutnya untuk kemudian ditukar makanan kemudian dilarang oleh raden Permadi.
Permadi bersedia untuk kemudian mencarikan makanan bagi saudaranya yang kelaparan.

Sementara itu, di sebuah sendang Niken Lastri sedang mencuci baju mereka dengan para embannya.

Sambil mencuci, bersukarialah mereka dengan menari Lengger.

Selesai mencuci, ketika mereka beriap untuk pulang datanglah raden Permadi yang menjawil Niken Lastri.
Tentu kedatangannya menyebabkan mereka terkejut dan berlari pulang.

Niken Lastri dan para embannya yang berlari pulang mendapati Lurah Sagotra, suami Niken Lastri dan melaporkan apa yang terjadi bahwa mereka dikejar-kejar oleh seorang pria.

Akan tetapi ketika raden Permadi tiba di tempat itu, jelaslah duduk perkaranya bahwa Permadi tidak bermaksud untuk mengganggu istri Sagotra tapi datang untuk meminta makanan bagi adik-adiknya.
Sebagai wujud terima kasih karena kejadian tersebut menjadikan hubungan antara Sagotra dan istrinya menjadi mesra kembali, diserahkanlah sepiring makanan untuk sang satria.

Setelah berucap terima kasih kepada keluarga itu, Permadi mohon pamit.
Namun ketika raden Permadi memberikan makanan yang didapat kepada ibunya, tanpa diduga Dewi Kunthi membuang makanan tersebut karena piring tersebut beraroma bunga melati sehingga sang ibu menyangka bahwa di tengah kesedihan adik-adiknya, sang anak berani bersenang-senang dengan menikah lagi.
Petruk sebagai perwakilan panawakan yang ikut mengiringi jalannya raden Permadi segera menjelaskan kepada ibu Pandawa bahwa aroma melati tersebut karena Lurah Sagotra yang berbahagia akan kemesraan dengan istrinya lagi.

Dewi Kunthi pun meminta maaf akan kejadian tersebut, barangkali memang demikianlah kehendak Dewata yang sedang menguji mereka dengan kesusahan.

Mereka pun melanjutkan perjalanan kembali.

Tersebutlah di dukuh Manahilan dimana sekarang giliran desa mereka yang mempersembahkan santapan daging manusia kepada Prabu Baka, sang Resi Jrapa sangat susah hatinya untuk menentukan siapa yang akan dikorbankan.

Tiba-tiba datanglah rombongan Dewi Kunthi dan anak-anaknya di pedukuhan tersebut.
Mereka meminta tempat untuk berlindung dan makanan secukupnya, yang dengan segera diberikan pertolongan oleh keluarga Resi Jrapa.

Dewi Kunthi yang melihat bahwa keluarga tersebut sedang kesusahan menanyakan apa yang terjadi,
Setelah Resi Jrapa menjelaskan mengenai kewajiban dukuhnya yang harus memberikan kurban manusia itu, raden Bratasena segera menawarkan diri biarlah ia saja yang menjadi kurban.

Resi Jrapa yang awalnya menolak karena sungkan akhirnya menyetujuinya.
Namun sebelum berangkat, sekujur tubuh Bratasena diberikan bumbu oleh Resi Jrapa untuk menarik Prabu Baka.

Sementara di istana Ekacakra, Prabu Baka sudah tidak sabar lagi menantikan santapannya.

Datanglah raden Bratasena yang membawakan tubuhnya sebagai makanan bagi Prabu Baka.
Tapi anehnya, ketika digigit oleh sang raja, badan Bratasena tidak kenapa-kenapa bahkan gigi Prabu Baka tidak sanggup untuk mengoyak kulit sang Sena.

Bima pun mengamuk dan menghajar semua anak buah Prabu Baka.

Tidak hanya anak buahnya, patih Kerajaan Ekacakra pun tidak lepas dari amukan Sena.

Sampai kemudian, Bratasena berhadapan langsung dengan Prabu Dawaka alias prabu Baka.

Tidak hanya bertarung dengan tangan kosong, keduanya yang berbadan besar juga bertarung dengan senjata gada milik mereka.

Tapi dengan kebaikan dharmanya, raden Bratasena akhirnya berhasil menusukkan kuku Pancanaka-nya ke perut raja Ekacakra itu.

Maka berakhirlah riwayat prabu Baka yang bengis dan sadis gemar memakan daging manusia itu.

Tutup layar.

Tutup Layar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s