Pergiwa Pergiwati (WO Bharata – 6 Juli 2013)

Tahun ini Wayang Orang Bharata merayakan ulang tahunnya yang ke-41.
Hari ulang tahun yang tepat tanggal 5 Juli itu dirayakan di hari Sabtu,6 Juli, dengan mengadakan pentas dengan judul Pergiwa Pergiwati, lakon yang dikenal juga sebagai Gatutkaca Gandrung. Dari beberapa hari sebelumnya, kami sudah memesan tiket untuk tempat duduk di balkon di paling depan. Maklum, di pagelaran kali ini harga tiket dinaikkan ๐Ÿ™‚ (VIP yang biasa 60K menjadi 150K, Kelas I yang biasa 50K menjadi 100K, dan balkon yang biasa 40K menjadi 50K). Dari balkon cukup OK view-nya, walaupun agak terhalang kamera yang menggantung di atas di depan panggung.

Menjelang Pentas

Pementasan dibuka dengan tarian Semut yang ditarikan dengan lucu dan menghibur oleh anak-anak yang merupakan keluarga dari komunitas Wayang Orang Bharata juga.

Tari Semut

Dilanjutkan dengan tari Rara Ngigel, diperagakan oleh para gadis remaja dengan berlenggak-lenggok mengikuti irama kendang Sunda.

Rara Ngigel

Usai tari tersebut, kelompok tari lain menarikan tari Yapong, tarian karya pak Bagong Kussudiarjo yang atraktif tentunya sudah banyak variasinya.

Yapong

Seusai sambutan dari Kadin Pariwisata DKI Jakarta, dari belakang panggung bermunculan para penari berpakaian cantrik yang masuk dan naik ke atas panggung. Di atas panggung mereka menari dengan sapu yang sudah tersedia ketika layar dibuka.

Sapu Cantrik

Mereka adalah para cantrik dari padepokan Andhong Sumawi alias Andhongsekar. Sang guru dari pertapan tersebut, Begawan Sidik Wacana datang disowani oleh para cantrik dan kedua cucunya, Pergiwa dan Pergiwati.

Andong Sumawi

Sesungguhnya kedua gadis tersebut adalah anak dari Dewi Manuhara, putri dari Begawan Sidik Wacana.

Pergiwa dan Pergiwati

Di pisowanan tersebut, Endang Pergiwa dan Endang Pergiwati yang terlihat murung ditanyai oleh sang kakek perihal kemurungannya. Diutarakanlah bahwa mereka gundah karena mereka bertanya-tanya siapakah sebenarnya ayah mereka. Begawan Sidik Wacana menjelaskan bahwa mereka sebenarnya adalah anak dari Raden Harjuna, panengah Pandawa, ksatria Madukara. Dengan bulat hati, Pergiwa dan adiknya memohon izin untuk ke kesatriyan Madukara menemui ayahnya. Atas masukan dari seorang cantrik, Janaloka, akhirnya sang Begawan memberikan izin kepada mereka berdua.

PergiwaPamit

Karena khawatir atas keselamatan kedua cucunya, Begawan Sidik Wacana akhirnya mengutus cantrik Janaloka untuk menyusul Pergiwa dan Pergiwati untuk melindungi keselamatannya. Namun karena sang Begawan masih agak curiga kepada Janaloka, sang cantrik akhirnya mengeluarkan sumpahnya jika dia berani memiliki niat untuk memiliki Endang Pergiwa dan Ending Pergiwati, biarlah perjalanannya nanti menjadi sulit, tidak ada tempat berteduh, tidak menemukan makanan dan minuman, dan mati dikeroyok orang banyak.

Janaloka Diutus

Berganti adegan yang mengambil setting di sebuah keraton yang kerajaannya sejahtera, yakni Ngamarta. Prabu Puntadewa, sang raja, beserta permaisurai, Dewi Drupadi, disowani oleh semua kadang Pandawa; Raden Bratasena, Raden Harjuna, serta si kembar Raden Nakula dan Raden Sadewa. Tak ketinggalan ibu suri, Kunti Talibrata, juga tampak hadir. Juga turut sowan Raden Abimanyu, putra Harjuna, dan Raden Gatutkaca, putra Bratasena.

Ngamarta

Tak berapa lama, datanglah kadang tua mereka, Prabu Kresna. Disambutnyalah ia dengan penuh hormat.

Kresna Datang

Kehadiran Prabu Kresna adalah untuk menjawab lamaran Raden Harjuna kepada putrinya, Siti Sendari, untuk Raden Abimanyu. Memang diceritakan bahwa jauh sebelumnya, Prabu Kresna sudah berjanji kepada Prabu Duryudana untuk menjodohkan Siti Sendari bagi Raden Lesmana Mandrakumara, putra mahkota Ngastina. Tapi ternyata datang juga lamaran dari Raden Harjuna, sanak kadang sendiri, sehingga membuat Prabu Kresna kesulitan menentukan. Akhirnya Siti Sendari mengajukan syarat bahwa yang boleh menjadi suaminya adalah yang dapat menyediakan patah (pendamping pengantin) dua orang gadis kembar yang cantik alami.

RembugTuwa

Di sudut pisowanan, Abimanyu dan Gatutkaca, dua saudara sepupu yang saling mengasihi, duduk diam memperhatikan semua rembugan orang tuanya.

Abimanyu dan Gatutkaca

Sepeninggal Prabu Kresna, Raden Harjuna segera memerintahkan anaknya, Raden Abimanyu ya Raden Angkawijaya, yang sudah mendengar sendiri syaratnya melamar Siti Sendari, untuk pergi mencari syarat patah kembar tersebut.

Abimanyu Diutus

Untuk mengamping-ampingi langkah Abimanyu di perjalanan, Raden Wrekudara pun utusan putranya, Raden Gatutkaca, menyusul saudara sepupunya itu, karena dimana ada Abimanyu di situ ada Gatutkaca dan dimana ada Gatutkaca di situ ada Abimanyu.

Gatutkaca Diutus

Dalam perjalanannya, para Panakawan yang mengantarkan langkah bendaranya beristirahat sambil bernyanyi ria dan bercanda menghibur penonton. Turut berpatisipasi Dayat dari WO Ngesti Pandawa (Semarang) berperan sebagai Petruk dan Billy dari Solo (WO Sriwedari & ISI Solo) sebagai Bagong.

panakawan

Setelah cukup beristirahat, mereka melanjutkan perjalanannya.

Abimanyu

Langkah Abimanyu terhenti, dicegat oleh para raksasa penunggu hutan sehingga terjadi petarungan yang akhirnya dimenangkan oleh sang satria.

Abimanyu Cakil

Abimanyu Cakil

Abimanyu Cakil

Abimanyu Cakil

Abimanyu Raksasa

Di sebuah padepokan di tepi hutan, para kadang Kurawa yang berjumlah sangat banyak itu berkumpul.

Kurawa

Dengan dipandegani oleh Narpati Basukarna dan patih Sengkuni, para Kurawa berembug bagaimana untuk memenuhi syarat putri istana Dwarawati, Siti Sendari, yang meminta patah kembar sebagai syarat melamarkan Raden Lesmana Mandrakumara.

Basukarna

Datanglah Raden Durmagati, yang masih termasuk di antara 100 orang Kurawa itu, melaporkan bahwa ia telah menemukan syarat lamaran itu yaitu dua orang gadis gunung yang cantik (artinya cantik murni yang tanpa perlu didandani lagi).

Durmagati Lapor

Menanggapi laporan Durmagati dan Durmuka, setelah berembug, maka Raden Karna dan para Kurawa memutuskan untuk mencari dua gadis seperti yang dilaporkan.

Bersiap

Dursasana, Citraksa, Citraksi, Kartamarma, dan para Kurawa lainnya tak ketnggalan untuk mencari syarat lamaran tersebut.

Kurawa berangkat

Setelah berjalan tak berapa lama, bertemulah para Kurawa tersebut dengan dua gadis desa yang polos yang ternyata bernama Endang Pergiwa dan Raden Pergiwati.

Kurawa Pergiwa

Ketika ditanyai nama dan hendak kemana, kedua gadis tersebut dengan polosnya menjawab bahwa mereka sedang dalam perjalanan untuk menemui ayah mereka, yakni Raden Harjuna di Kerajaan Madukara. Dengan memanfaatkan hal tersebut, Raden Karna mengaku bahwa mereka masih saudara dengan ayah kedua gadis tersebut dan mengajaknya untuk ikut rombongan mereka.

Durmagai Bertanya

Endang Pergiwa tentunya tidak semudah itu percaya kepada orang asing. Tapi para Kurawa terus memaksa sampai akhirnya kedua gadis itu takut dan lari.

PergiwaPergiwati

Sementara itu, di tengah perjalanannya, Cantrik Janaloka yang ditugaskan untuk menyusul kedua cucu gurunya itu kelelahan karena belum berhasil menemui bendaranya. Namun ternyata walaupun sudah cukup berumur namanya lelaki ya tetap lelaki. Timbul niatan dalam hatinya untuk memiliki kedua bendaranya itu karena selalu terbayang – bayang parasnya. Maka sumpah yang terucap pun terjadilah, air sendang yang akan diminumnya seketika menering dan di bawah pohon tempat ia berteduh jatuhlah ranting menimpanya.

Cantrik Janaloka

Tiba – tiba, datang dua sosok yang berlari menghampiri sang cantrik, tak lain Endang Pergiwa dan Endang Pergiwati yang dikejar – kejar oleh para Kurawa. Janaloka bersedia membantu menghadapi musuh yang mengejar tapi dengan syarat yaitu kedua gadis tersebut bersedia menjadi istrinya. Tentu terkejutlah Pergiwa karena cantrik eyangnya memiliki niatan tersebut. Tapi demi keamanannya diiyakanlah tawaran tersebut. Untuk menyelamatkan diri dari kejaran Kurawa tadi, Pergiwa dan Pergiwati diminta untuk mengaku sebagai istri dari Janaloka.

Janaloka

Dengan berombongan, datanglah para kadang Kurawa mendapati kedua gadis yang dikejarnya dijagai oleh seorang yang berpakaian sederhana. Endang Pergiwa yang mengaku bahwa Janaloka tersebut adalah suaminya tentu tidak dipercayai walaupun mereka membuktikan kemesraannya.

Kurawa Datang

Karena tidak percaya dengan apa yang disampaikan Pergiwa, terjadilah perang yang tidak seimbang antara satria Kurawa yang begitu banyak jumlahnya dengan seorang cantrik Janaloka. Dan terpenuhilah sumpah Janaloka yang mati dikeroyok orang banyak.

Janaloka Kalah

Endang Pergiwa dan Endang Pergiwati yang sudah tidak ada pelindungnya pun menjadi bulan-bulanan dan kejar-kejaran dengan Kurawa.

Pergiwa dikejar

Raden Abimanyu yang kebetulan melintas dan melihat dua orang gadis dikejar-kejar oleh lelaki yang beringasan itu langsung saja berniat untuk membantunya. Dihadang dan dilawannyalah para satria Kurawa.

Abimanyu Datang

Abimanyu dikeroyok oleh rombongan Kurawa. Karena kalah jumlah, ia kewalahan meladeni kridha dari lawan-lawannya.

Abimanyi dikeroyok

Datanglah Raden Gatutkaca dari dirgantara yang melihat saudara sepupunya dikeroyok orang banyak. Dengan kesaktiannya, dihabisinya sendiri semua musuh yang menghadang.

Gatutkaca menolong

Raden Karna yang mengamat-amati dari kejauhan sejak awal turun tangan melihat para saudaranya dihajar oleh satria Pringgodani itu. Berhadapanlah satu lawan satu antara Tetuka dengan Basukarna, sama kuat.

Gatutkaca Karna

Karena sama kuat, dikeluarkanlah panah pusaka Narpati Basukarna. Namun belum sempat melepaskan anak panahnya, sudah didului Gatutkaca yang menghentak tanah sehingga semua Kurawa lari tunggang-langgang.

Panah Karna

Keluarlah Endang Pergiwa dan Endang Pergiwati dari persembunyiannya untuk menjumpai satria yang telah menyelamatkannya. Tapi, ketika melihat penyelamatnya, cinta pada pandangan pertama terjadilah. Benih – benih cinta muncul di antara Pergiwa dan Raden Gatutkaca.

Pandangan Pertama

Para Panakawan yang setelah mengetahui bahwa kedua gadis tersebut adalah putri dari Dewi Manuhara segera menjelaskan bahwa kedua satria yang menolong putri tersebut adalah saudara mereka sendiri. Raden Abimanyu adalah saudara seayah mereka, sedangkan Raden Gatutkaca adalah anak dari Raden Bratasena sehingga dapat dibilang kakak sepupunya.

Panakawan Menjelaskan

Adegan salah tingkah Gatutkaca yang baru pertama kali mengenal rasa cinta pada wanita itu pun menjadi hiburan sendiri dengan diwarnai candaan oleh para Panakawan.

Panakawan mbeda

Pun ketika bersalaman dengan Pergiwa, Raden Gatutkaca yang belum pernah mengalami rasa seperti itu menggenggam jemari pujaannya dengan begitu eratnya sampai si gadis kesakitan.

Ngremet tangan

Karena sudah menemukan apa yang dicari, yakni patah sakembaran yang cantik alami yang tak lain adalah Endang Pergiwa dan Endang Pergiwati, maka Panakawan segera mengantarkan Raden Abimanyu untuk kembali menghadap para sesepuhnya di Ngamarta. Tinggallah Raden Gatutkaca yang masih terpincut dengan paras Pergiwa.

Gatutkaca menarik Pergiwa

Gandrung, Gatutkaca gila oleh asmara.

Gatutkaca Gandrung

Diilustrasikan sampai Raden Gatutkaca merasa banyak bidadari mengelilingi dan mengiringi senandung cintanya.

Bidadari

Tanpa diduga, Pergiwa muncul dari tengah penonton. Tarian Gatutkaca Gandrung yang menjadi penutup pagelaran itu pun dilakukan di tengah – tengah kursi pada hadirin.

Gandrung

Tutup layar, pagelaran usai dan tak lupa para pemain mengucapkan terima kasih kepada para penonton.

Salam penonton

Selamat ulang tahun Wayang Orang Bharata yang ke-41.
Semoga jaya dan sukses selalu. Mari kita melesarikan budaya bangsa. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi.

6 thoughts on “Pergiwa Pergiwati (WO Bharata – 6 Juli 2013)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s