Arjuna Tinandhing – WO Sriwedari (Gedung Kesenian Jakarta 22Jun)

22 Juni 2013.
Memperingati ulang tahun ke-102, Wayang Orang Sriwedari melakukan pementasannya di Gedung Kesenian Jakarta di tanggal 22 Juni kemarin sekaligus memeriahkah hari ulang tahun Jakarta yang memang menyebabkan kemacetan di mana-mana. Dengan kerjasama dengan komunitas Budaya_Ku, acara ini dapat terselenggara.

Jauh-jauh hari sebelumnya saya sudah membeli tiket VIP 2 buah, tapi ternyata di hari H tidak ada partner saya nonton. Alhasil saya pun menonton di baris D sendirian. Kursi sebelah hanya untuk meletakkan tas (memang saya langsung meluncur ke GKJ sehabis acara workshop kantor dengan bawaan satu ransel besar). Maaf jika gambarnya kurang OK, karena duduk di baris ke-empat Β dari depan, jadi agak susah mencari sudut pandang dengan adanya orang lain di kursi depan dan tanpa mengganggu penonton di belakang saya πŸ™‚

tiket

Tablo dibuka dengan adegan Dewa Srani yang sedang gundah gulana sebagai latar. Dan di muka panggung ditampilkan sang Niwatakawaca yang sedang mengacaukan kahyangan Jonggring Saloka. Tampak semua dewa kewalahan menghadapi sang raja Raksasa ini.

Niwatakawaca

Datanglah sang Arjuna, panengah Pandawa, dengan berbusana tidak sebagai satria. Memang, diceritakan bahwa ketika itu ia tengah bertapa dengan menggunakan nama Begawan Ciptaning Mintaraga, dengan rambutnya yang terurai. Di tengah ia bertapa, ia dimintai tolong oleh dewa untuk melawan musuh yang sedang mengganggu keamanan kahyangan. Terjadilah pertempuran antara Mintaraga dan Niwatakawaca yang akhirnya dimenangkan oleh Arjuna.

Mintaraga Niwatakawaca

Oleh jasanya tersebut, para dewa dengan diwakili oleh Bathara Indra memberikan anugerah kepada Arjuna berupa kerajaan kahyangan Selakandha Warubinangun dengan Dewi Supraba sebagai permaisurinya. Juga anugerah status sebagai “Lelananging Jagad” diberikan kepada Janaka.

Lelananging Jagad

Terbangunlah Dewa Srani dari lamunannya dan menyambut kedatangan ibunya, Bathari Durga alias Bathari Umayi. Berceritalah ia mengenai kegundahan hatinya karena merasa iri dengan anugerah yang diberikan oleh para Dewa kepada Arjuna sebagai lelananging jagad. Sang ibu yang disambati oleh anaknya menyanggupi untuk membereskan hal tersebut dan segera sowan ke Bathara Guru.

DewaSrani wadul

Berganti latar, di Kahyangan Jonggring Saloka. Bathara Brama, Bathara Bayu, Bathara Sambu dan Bathara Panyarikan menarikan kiprah untuk mempersiapkan pasewakan agung.

Jongging Saloka

Datanglah Bathara Guru sebagai rajanya para dewa dengan diiringkan para bidadari yang mengawal senjata-senjata pusaka.

Bathara Guru

Di pisowanan agung tersebut, hadir pula Bathara Narada dan tidak ketinggalan istri dari Bathara Guru yakni Bathari Umayi.

Durga Sowan

Kesempatan pisowanan tersebut tidak dilewatkan oleh Bathari Durga untuk menyampaikan uneg-uneg anaknya, Dewa Srani yang tak lain adalah anak kandung dari sang Bathara Guru. Ia keberatan jika justru Arjuna yang diberikan anugerah Dewi Supraba dan kerajaan Selakandha. Kenapa tidak anak kandungnya sendiri yang diberikan anugerah tersebut, demikian hatur Durga kepada Bathara Guru.

Durga Menggugat

Tentu saja Narada segera menyanggah apa yang disampaikan oleh Bathara Guru. Ia mengingatkan bahwa apa yang sudah dititahkan raja tidak boleh dicabut lagi, sabda pandhita ratu alias sabda brahmana raja. Tidak sepantasnya anugerah yang telah diberikan pada Arjuna dicabut lagi dan justru diberikan kepada Dewa Srani yang tidak jelas kontribusinya kepada kahyangan meskipun anak dari Bathara Guru sendiri.

Durga Narada

Namun, tidak diduga Bathara Guru justru lebih mendengarkan apa yang disampaikan istrinya. Dan segera dititahkannya bahwa anugerah kepada Arjuna dicabut dan diberikan kepada anak Bathara Umayi, si Dewa Srani. Narada yang tidak terima dengan keputusan tersebut segara turun ke marcapada.

Anugerah Bathara Guru

Berganti latar, di tengah perjalanan, para panakawan bercanda bersukaria bernyanyi-nyanyi sambil menghibur penonton.

panakawan

Rama dari Nalagareng, Kanthongbolong dan Bawor, yakni Ki Lurah Badranaya alias Semar mengingatkan anak-anaknya untuk melanjutkan perjalanan dari bendara mereka, Raden Arjuna.

Panakawan

Di tengah perjalanan panakawan yang mengantar bendaranya, Raden Arjuna dihadang oleh sekawanan raksasa.

Arjuna ditya

Tak ketinggalan ditya Gendirpenjalin alias sang cakil, menghadang perjalanan sang satria.

cakil

Pertarungan antara Arjuna dan si cakil ditampilkan dengan menarik, dengan gerakan-gerakan yang atraktif.

cakil

cakil 2

cakil 3

Dengan kemenangan Arjuna yang mengatasi kesaktian si cakil, para ditya yang lain mengeroyok sang satria yang kemudian dengan mudah dapat dikalahkan oleh Raden Arjuna.

Arjuna vs Rasaksa

Berganti latar di kahyangan Selakandha, tampak Dewi Supraba nglelewa dan dengan kedatangan sang suami pujaan hati, Raden Janaka, mereka memadu kasih memamerkan cinta kasih mereka.

Arjuna Supraba

Tiba-tba mereka dikagetkan dengan kedatangan Bathari Durga yang diiringkan oleh Bathara Indra. Tak kalah kaget, karena para dewa tersebut memberikan kabar yang mengejutkan yaitu bahwa anugerah dewa kepada Janaka dicabut saat itu juga.

Durga datang

Berita mengejutkan tersebut tentu menyebabkan hati Supraba menjadi sedih, tapi ditenangkan oleh sang suami. Jika memang demikian lelakon yang harus mereka jalani, sebagai manusia tidak bisa menolak.

Supraba sedih

Demikianlah setelah Arjuna diusir dari kahyangan Selakandha, tinggallah Dewi Supraba yang sedih karena kehilangan pegangan hatinya. Oleh Bathari Durga dan Bathara Indra, sang Dewi diboyong ke Tunggulmalaya, tempat tinggal Dewasrani.

Supraba boyong

Arjuna yang gundah hatinya sedang ngudarasa dengan para panakawan. Tiba – tiba datanglah Bathara Narada menghampiri mereka. Begitu mendengar kisah dari sang Arjuna, benar terjadilah apa yang dikhawatirkan olehnya. Disarankannyalah kepada Arjuna untuk merebut apa yang sudah menjadi haknya dengan melurug ke Tunggulmalaya. Berangkatlah sang Janaka.

Narada

Di kerajaan Tunggulmalaya, sang raja Dewasrani dan para pengawalnya berkiprah menampilkan kesaktiannya.

Dewasrani

Datanglah Bathari Durga ke kerajaan anaknya, dan dengan senang diberitahukanlah bahwa Sang Bathara Guru telah mencabut anugerah Arjuna dan diberikan kepada Dewasrani, termasuk kerajaan Selakandha dan Dewi Supraba. Diserahkannya Dewi Supraba yang diboyongnya kepada sang anak terkasih.

Durga memberikan Supraba

Dengan hati berbunga-bunga, Dewasrani senang mengetahui bahwa Dewi Supraba telah ada di tangannya. Dengan segenap cara dirayulah dewi yang cantik itu untuk melayaninya. Namun mengingat hakikat seorang istri berkewajiban untuk setia kepada suami, tentu ditolaknya semua rayuan Dewasrani.

Dewasrani menggoda

Tanpa mereka ketahui, Raden Arjuna telah datang mengendap-endap ke Tunggulmalaya untuk menggugat kembali apa yang menjadi haknya.

Arjuna datang

Pertarungan bandayudha tidak terelakkan antara Janaka dengan sang Dewa Srani. Masing-masing saling mempertunjukkan kesaktiannya dalam mengolah keris.

Arjuna Dewasrani

Tanpa diduga, para dewa yang melihat dari kejauhan datang. Bahkan ikut saling berperang membantu jago yang mereka dukung. Bathara Guru manjing ke dalam raga Dewasrani, sedangkan Bathara Narada masuk ke dalam tubuh Arjuna. Jadilah perang yang lebih hebat antar pada dewa sendiri.

dewa - perang

Bathara Ismaya alias Semar yang mengawasi perang tersebut dari awal segera menengahi. Benar-benar hal yang memalukan ketika para dewa justru saling berperang, bukannya menjaga perdamaian dunia. Dituturinya semua yang tak luput dari kesalahan, Dewasrani yang tak punya lelabuhan apa pun tak sepantasnya meminta hak anugerah dari kahyangan, Bathara Guru yang semestinya berbuat adil tanpa melihat sanak famili, pun Arjuna dan bathara Narada bahwa tidak semua masalah diselesaikan dengan cara bertarung, semuanya dapat diselesaikan secara kekeluargaan.

Semar pitutur

Akhir pertunjukan, dan semua peraga berterima kasih kepada penonton.

tutup

Demikianlah pertunjukan pada hari ini.
Secara keseluruhan memang menarik, terutama didukung dengan suasana di Gedung Kesenian Jakarta yang memang nyaman. Namun bagi saya yang beberapa kali menonton wayang orang ada beberapa yang kurang puas, terutama masalah durasi karena hanya sekitar 2 jam pertunjukan tersebut sudah usai. Kemudian untuk latar yang hanya menggunakan layar hitam, namun hal tersebut dapat ditutup dengan adanya level di bagian belakang dan tata pencahayaan yang mendukung. Satu lagi adalah gamelan yang digunakan hanya laras pelog, mungkin ini untuk meminimalisir effort sekaligus untuk mengeluarkan semua kreativitas πŸ™‚

Mari kita lestarikan budaya kita.
Kalau bukan kita, siapa lagi.
Kalau bukan sekarang, kapan lagi.

5 thoughts on “Arjuna Tinandhing – WO Sriwedari (Gedung Kesenian Jakarta 22Jun)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s