Gatotkaca Gugur (WO Bharata – 1 Juni 2013)

Di hari kelahiran Pancasila tahun ini, kami berdua menonton Wayang Orang Bharata yang kali ini melakonkan Gatotkaca Gugur. Ternyata untuk pementasan Bharatayuda, kita harus memesan tiket jauh hari sebelumnya untuk mendapatkan tempat duduk yang OK karena banyak sekali peminatnya. Bahkan saya yang booking beberapa hari sebelum hari-H pun masih susah untuk mendapat tempat duduk VIP, ditambah lagi di hari itu mendapat posisi yang kurang strategis, di kelas I di paling kanan. Jadilah hasil potonya kurang sip karena kurang center (mohon maaf karena masih dalam taraf belajar memotret juga). Tapi bagaimanapun saya coba untuk re-telling pementasan kali ini.

Gatotkaca Gugur

Pertunjukan dibuka dengan tarian Sekar Puri oleh para penari wanita WO Bharata.
Sekar Puri

Babak pertama diawali dengan latar sebuah kerajaan, dan seperti adatnya para sentana kerajaan menarikan kiprah terlebih dahulu.
Prajurit Lembuso

Datanglah raja mereka, Prabu Lembusa dan adiknya Lembusana yang memperbincangkan bahwa mereka didapuk oleh Prabu Duryudana, raja Hastina, untuk mendukung pihak Kurawa di perang Bharatayuda. Dan dengan senang hati mereka menanggapi perintah tersebut sekaligus untuk membalaskan dendam ayah mereka yang dibunuh oleh panegak Pandawa, Wrekudara. Segeralah mereka berangkat ke tegal Kurusetra sebagai prajurit ampak awur-awur.
Lembuso Lembusono

Di tempat lain, di tapal batas palagan Kurusetra, tampak Raden Drestajumna dan para putra Pandawa yang berjaga-jaga, antara lain Raden Sasikirana putra Raden Gatotkaca, Raden Danurwenda putra Antareja, dan lainnya.
Putra Pandawa

Tiba – tiba datanglah pasukan ampak awur-awur dari pihak Kurawa yang dipimpin oleh Prabu Lembusa dan Lembusana.
Kurusetra

Maka pertempuran antara keduanya pun tidak terhindarkan.
Perang 1

Keduanya saling memperagakan kesaktian masing-masing.
Perang

Dengan koreografi yang rancak, adegan perang ini tampak atraktif dan menarik.
Perang 3

Kedua pihak sama kuat, bahkan Raden Sasikirana berhadapan satu lawan satu dengan Prabu Lembusa
Perang 4

Sedang serunya pertarungan, bende tanda berakhirnya pertempuran hari itu dibunyikan. Memang dalam perang suci Bharatayuda ini terdapat peraturan yang harus dipatuhi oleh semua pihak bahwa perang hanya boleh dilakukan di siang hari, sejak matahari terbit sampai dengan matahari terbenam. Maka terhentilah pertempuran mereka dan kembali ke barak masing-masing.
Perang berhenti

Adegan berganti latar di pesanggrahan Bulupitu, di mana pihak Kurawa beristirahat dan merencanakan strategi perang selanjutnya di hari ke-16 perang Bharatayuda. Saat itu mereka masih bersedih atas kematian saudara mereka Jayajatra (atau disebut pula Jayadrata) dan Burisrawa di tangan Janaka.
Bulupitu

Di tengah kesedihan itu, Prabu Duryudana merasa kebingungan untuk menentukan strategi selanjutnya melawan Pandawa. Atas saran Patih Sengkuni, malam itu juga disarankan agar prajurit Kurawa maju menyerang tempat peristirahatan prajurit Pandawa. Tentunya Raden Basukarna dan Resi Drona, sebagai satria utama, menolak usulan tersebut karena hal tersebut adalah hal yang nista karena melanggar peraturan di perang suci Bharatayuda. Namun, namanya saja Harya Suman yang penuh tipu muslihat, dengan lidahnya yang licin justru memojokkan Raden Karna dengan mengatakan bahwa badannya saja yang membela Kurawa tapi hatinya membela saudara seibunya yaitu para Pandawa. Panaslah Raden Karna mendengar hal itu, maka dengan gagah disanggupinyalah menjadi Senopati Kurawa malam itu juga. Prabu Duryudana pun mewisudanya dengan mengalungkan puspita rinonce kepada Narpati Basukarna, raja Awangga itu.
Karna Winisuda

Maka dengan pasukan penuh Kurawa dan kereta kuda Karna, berangkatlah prajurit itu untuk menerjang prajurit Pandawa malam itu, dengan mengesampingkan aturan yang seharusnya ditaati.
karna Budhal

Berganti adegan, di pesanggrahan Randhu Gumbala di tapal batas pertempuran, para Panakawan berjaga-jaga sambil menghibur para penonton dengan gendhing-gendhing dan guyonan mereka. Tiba-tiba dari kejauhan seorang sentana berteriak kepara Panakawan bahwa di malam hari tersebut, pihak Kurawa mengangkat senopati perangnya yakni Raden Karna. Segeralah para Panakawan melaporkan hal itu kepada bendaranya.

Sementara, di pesanggrahan Hupalawiya, prabu Matswapati sebagai sesepuh pihak Pandawa sedang disowani para putra-putranya. Mereka menyatakan kebanggaannya atas keberhasilan Janaka menumpas Jayadrata dan Burisrawa, tapi Semar Badranaya segera mengingatkan jangan sampai terlena dengan kemenangan, karena perang belumlah berakhir.
Hupalawiya

Datanglah Gareng, Petruk, dan Bagong di pisowanan itu untuk melaporkan apa yang mereka dengar dari prajurit jaga di tegal Kurusetra. Para Pandawa kaget karena hal tersebut artinya Kurawa menyalahi peraturan perang.

Segeralah Kresna mengambil tindakan untuk mengangkat Senopati perang di pihak Pandawa untuk menghadang pasukan Kurawa yang menyerang. Dipanggilnya putra Werkudara, Raden Gatotkaca, untuk datang menghadap dan diwisuda saat itu juga menjadi Senopati Utama.
Gatotkaca Winisuda

Dengan rasa bangga, Gatotkaca memohon restu dari para pepundhen untuk maju ke medan laga. Namun ketika berpamitan kepada ayahnya, maturlah ia untuk pamit pejah dan tanpa ba bi bu lagi segera budhal meninggalkan pisowanan. Kaget mendengar atur Tetuka anaknya, Bratasena juga cancut tumandang berangkat menyusul putranya tersebut.
Gatotkaca Pamit

Di saat yang sama di lain tempat, Dewi Arimbi sedang memanjatkan doa di sanggar pamujan di kerajaanya Pringgondani dengan ditemani menantunya Dewi Pregiwa. Datanglah anaknya, Gatotkaca, sowan sambil berkangen-kangenan karena lama tidak pulang.
Pringgondani

Dengan sekar rinonce terkalung di lehernya, Gatotkaca matur bahwa dia didhapuk menjadi Senopati utama Pandawa di malam itu juga, dan musuhnya adalah Raden Narpati Basukarna. Mendengar siapa musuh yang akan dihadapi anaknya, sedihlah hati Arimbi. Berpesanlah ia pada anaknya agar berhati-hati karena Raden Karna memiliki senjata Kunta, senjata sakti pemberian Dewa yang kala itu seharusnya diberikan kepada Raden Arjuna untuk memotong pusar Tetuka yang tidak tedhas dipotong senjata apa pun. Namun karena paras Arjuna dan Karna yang mirip (tidak heran karena mereka satu ibu), Dewa salah memberikannya kepada Karna. Pertempuran terjadi dan Arjuna hanya mendapat sarung Kunta saja. Dan ajaibnya dengan sarung Kunta itu saja, pusar Gatotkaca dapat terpotong dan sarung tersebut justru masuk ke perutnya. Hal ini lah yang menjadikan Arimbi merasa khawatir. Demi membela negara, berangkatlah Satria Pringgondani, Raden Gatotkaca.
Weling Arimbi

Karena khawatir akan keselamatan anaknya, Dewi Arimbi memerintahkan beberapa tetua Pringgonadi yang masih adik-adiknya alias paman Gatotkaca untuk membayangi langkah anaknya di palagan.

Dengan kesaktiannya, mengamuklah Gatotkaca menghajar lawannya satu per satu.
Gatotkaca ngamuk

Meskipun dikeroyok, dengan trengginas digempurnya prajurit Kurawa itu.

Para paman Gatotkaca yang telah sampai di tempat pertempuran ikut serta membantu pihak Pandawa dengan bertempur melawan Prabu Lembusa dan Lembusana.

Namun karena para prajurit dari Pringgandani itu pada dasarnya adalah berjenis rasaksa juga, sehingga tidak dapat dibedakan dengan para rasaksa dari pihak Kurawa. Dan tanpa pandang bulu, Gatotkaca membunuh semua yang ada di depannya, tidak terkecuali para pamannya prajurit Pringgondani itu. Tersadarlah Gatotkaca bahwa ia telah salah tidak hanya membunuh lawan, tapi juga kawan sendiri.

Datanglah Narpati Basukarna untuk berhadapan satu lawan satu dengan Gatotkaca.

Keduanya saling menunjukkan kesaktian masing-masing, dan sama kuat. Ketika Karna mengeluarkan senjata Kunta, melesatlah Gatotkaca ke dirgantara. Dan tanpa ragu-ragu dilesatkanlah Kunta oleh Karna menuju satria yang terbang ke awang-awang itu.

Sementara itu, di awang-awang tampak roh Kalabendana, paman Gatotkaca, yang melayang-layang.

Melihat bahwa keponakan kesayangannya itu tengah dalam peperangan, dan inilah saatnya untuk mengajaknya menuju nirwana. Demi mengingat bahwa di saat yang lalu Gatokaca telah membunuh pamannya itu sendiri karena kejujurannya mengingatkan Abimanyu agar tidak beristri lagi, didorongnyalah senjata Kunta yang tengah mengarah ke tubuh Tetuka. Gatotkaca yang melihat bahwa pamannya datang menjemputnya, dengan ikhlas disodorkannya dadanya untuk memapag senjata Kunta.

Curiga manjing warangka, warangka manjing curiga. Masuklah senjata kunta ke dalam sarungnya lagi, dan gugurlah Satria Pringgondani, Raden Gatotkaca.

Para prajurit Kurawa terperangah sambil menanti apa yang terjadi di atas sana. Tiba-tiba melesatlah sesosok tubuh menimpa barisan prajurit itu yang porak-poranda seketika.

Melihat tubuh anaknya yang melayang melaju melesat ke arah barisan Kurawa, melompatlah Bratasena untuk menyongsongnya. Tanpa melihat apa yang ada di depannya, diterjangnya setiap prajurit yang menghalangi. Dengan kesedihan yang mendalam, dipeluklah tubuh anaknya yang terkulai tak bernyawa di pangkuannya. Dengan diiringi nyanyian bidadari yang menyongsong jiwa sang Satria, berakhirlah pertunjukan malam ini.

Tutup Layar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s