Sugeng lan WIlujeng (2)

Menyambung tulisan sebelumnya mengenai tembung (kata dalam bahasa Jawa) – antara Sugeng dan Wilujeng, beberapa minggu yang lalu di majalah Panjebar Semangat yang biasa saya berlangganan terdaat artikel yang membahas hal yang sama.
Tepatnya di Edisi Panjebar Semangat edisi 17 tertanggal 27 April 2013, oleh Ki Mondroguno (Trenggalek) tertulis beberapa rujukan / referensi mengenai kata tersebut, demikian :

1. Buku Unggah-Ungguh Basa Jawi, karangane Wardono, BA. Ditulis ing kaca 33 tembung slamet iku ngoko, kramane wilujeng, krama inggile sugeng
2. Buku Bausastra Jawa, karangan S Prawiro Atmodjo. Ing kaca 265 ditulis yen slamet iku tembung ngoko, kramane wilujeng, krama inggile sugeng
3. Buku Bausastra abasa Walanda (ora karuwan asmane sing ngarang jalaran samake wis ilang). Tulisane Jawa lan latin, sethithik tulisan Arab. Ing kaca 272 tinulis (sugeng, K.h, selamat, N, wilujeng,K) heil; welvarend gezond, angaturaken kasugengan gelukwenshen. Saliyane iku ing kaca 412 disebutake: wilujeng Het is een Kramavorm van waluta, waras, ical sakite.

Jadi, ternyata antara kata Sugeng dan Wilujeng, keduanya sama-sama berarti selamat.
Hanya penggunaannya yang perlu menyesuaikan konteks, behadapan dengan siapa dan menggunakan ngoko, krama, atau krama inggil.
Intinya, pesan dari sang penulis ‘aja ninggal tata lan rasa‘, memang bahasa Jawa adalah bahasa yang kaya dan penggunaannya tidak hanya berdasarkan aturan/teori saja tetapi juga menggunakan rasa manakah yang lebih trep/pas digunakan.
Bahasa hanyalah perlambang/alat komunikasi, tapi dari bahasa lah tampak unggah-ungguh yaitu menunjukkan perilaku seseorang, dan dari perilaku tampaklah adat dan seberapa luhur budinya. Demikianlah hendaknya budaya kita junjung, bukan sebagai suatu beban peninggalan warisan nenek moyang, tapi sebagai identitas yang mengikat yang sudah seharusnya dengan bangga kita sandang.

6 thoughts on “Sugeng lan WIlujeng (2)”

  1. kenapa ya banyak kemiripan antara bahasa jawa dgn bahasa sunda ya gan???

    beberapa yg gw tau, kata sunda yg sama dgn kata jawa:

    – wilujeng (selamat)
    – wengi (malam)
    – dewek (di sunda berarti gw, di jawa berarti … ga tau lah)
    – leres (di sunda berarti betul, di jawa berarti kanan klo ga salah)
    – atos (di sunda = udah, di jawa = keras)
    – ngopi (di sunda = ngemil, di jawa = minum kopi)
    – kaula (kalo di sunda kaula, klo di jawa kula)
    – dahar (di sunda bahasa loma, klo di jawa bahasa halus)
    – … aaaahk masih banyak lah bahasa sunda yg mirip dgn bahasa jawa, bahkan sama). Dan yang gw heran tuh, kenapa ya kebanyakan bahasa jawa yg ada di sunda jd bahasa halus, sementara bahasa sunda aslinya dijadikan bahasa kasar dgn loma??? contohnya:

    – leres. bahasa sunda halus, bahasa loma (sedang)nya bener. bahasa kasarnya eucreug ato baleg.
    – wengi. bahasa sunda halus. bahasa lomanya peuting.
    – enjing (menurut gw sepertinya kata enjing serapan dr bahasa jawa deh), bahasa halus. bahasa lomanya isuk.
    – sampean, bahasa halus. bahasa lomanya suku. bahasa kasarnya cokor.
    – jenengan, bahasa halus. bahasa lomanya ngaran.
    – jumeneng, bahasa halus. bahasa lomanya hirup.
    – atos, bahasa halus. bahasa lomanya geus/enggeus. bahasa kasarnya manggeus.
    – … dan masih banyak lg kata-kata jawa yg mirip dgn kata di sunda, yg ternyata klo di sunda kata-kata halus, sedangkan bahasa sunda aslinya jadi kasar.

    Itu setahu gw.

    1. Kenapa harus heran?
      Memang sejarahnya dulu kan jawa, sunda, bali, madura masih satu rumpun.
      Waktu lah yang membuat semakin ke sini terdapat banyak perbedaan dialek di berbagai daerah, bahkan berbeda kabupaten saja kadang beda istilah yang digunakan.
      Indah bukan ? 🙂

  2. mas, sayaa mau tanya lebih rinci ya heheheh. seperti penjelasan mas astro di atas bahwa yang membedakan sugeng dan wilujeng hanya pada penggunaan. nah mas, boleh dong dijelaskan tentang kapan dan kepada siapa kita memakai sugeng, serta kapan dan kepada siapa kita menggunakan wilujeng.sementara kalau kita membuka buku pelajaran bahasa jawa, pasti akan lebih banyak kata sugeng daripada wilujeng. matur nuwun

    1. halo mbak
      seperti pada penjelasan sebelumnya, yang membedakan adalah konteks penggunaannya

      wilujeng : biasa digunakan untuk krama lugu
      sugeng : biasa digunakan untuk krama inggil/krama alus

      jadi misal digunakan untuk menghormati kawan sebaya atau sedikit lebih tua : “Wilujeng siyang mas, piye kabare?”

      sedangkan “sugeng” lebih trep untuk krama inggil : “Sugeng enjing pak, kula badhe ngaturaken ulem.”

      Mungkin kira2 demikian mbak 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s