Abimanyu Gugur (WO Bharata – 4 Mei 2013)

Kali ini kami nonton Wayang Orang beramai-ramai, cukup ramai sekitar 7 orang.
Lakon episode ini adalah Abimanyu Gugur, kelanjutan dari sekuel perang Bharatayuda sebelumnya (episode Bhisma Gugur).

Pertunjukan dibuka dengan tari-tarian oleh tiga wanita yang berlenggak-lenggok di atas panggung.
opening

Babak pertama diawali dengan latar di pesanggrahan Bulupitu di mana para Kurawa berkumpul sowan kepada yang Nata Ngastina, Prabu Duryudana. Sepeninggal Resi Bhisma sebagai pepundhen terhormat, mereka juga merasa sedih.
bulupitu

Namun perang Bharatayuda harus terus berlanjut. Dengan dorongan motivasi dari guru mereka Pandhita Drona, mereka harus maju berperang menghadapi Pandawa lagi, bahkan sang mahaguru pun bersedia menjadi senopati utama para Kurawa. Maka dengan senang, Duryudana mewisuda Resi Drona menjadi senapati perang di pihak mereka.
winisuda

Demi menjadi senopati utama, maka Begawan Drona juga harus memiliki senopati pengapit. Dipanggilnyalah murid Drona yang lain yang juga memiliki kesaktian yang lumayan tinggi, yaitu Gardapati dan Wersaya. Diangkatlah mereka menjadi senopati pengapit bagi Drona dan berangkatlah pasukan itu ke medan Kurusetra.
pengapit

Di perjalanan menuju arena perang, sang Guru Drona merencanakan strategi perang bala Kurawa. Drona memilih menggunakan gelar perang Mprit Neba, gelar perang bagaikan burung emprit/pipit yang kecil tapi berjumlah banyak yang menyerang musuh tanpa henti.
mprit neba

Di tepi arena perang, berganti latar, para panakawan sedang bersukaria sambil menunggu adanya kabar siapa Senopati Utama dari pihak Kurawa

Sambil menyanyikan gendhing-gendhing dolanan, mereka menghibur penonton

Akhirnya keluarlah pemberitaan siapa yang menjadi senopati utama dari pihak Kurawa, yaitu Begawan Drona. Demi mendengar berita itu, segeralah para panakawan melaporkannya kepada para pepundhen Pandawa.
sowan

Setelah mendengar bahwa Drona menjadi senopati lawan mereka, prabu Kresna segera menyusun strategi dan menunjuk siapa yang menjadi senopati utama dari pihak pandawa. Tetapi Janaka dan Wrekudara tidak bersedia menjadi senopati utama, menyadari bahwa mereka akan menghadapi guru mereka sendiri. Bangkitlah Drestajumna menawarkan diri untuk menjadi senopati utama dari kubu Pandawa dan Puntadewa mengalungkan puspita rinonce sebagai tanda bahwa dirinyalah senopati sang jendral lapangan. Untuk menghadapi gelar perang Mprit Neba, Drestajumna akan menyiapkan gelar perang Garudha Nglayang, dimana kekuatan utama di sayap kiri dan sayap kanan yang diisi oleh Janaka dan Wrekudara. Berangkatlah mereka ke medan laga.

Melihat bahwa Pandawa menerapkan gelar perang Garudha Nglayang, Drona segera mengubah strategi. Dengan kelicikannya, diperintahkannya Gardapati & Wersaya untuk memancing Janaka & Wrekudara agar keluar dari formasi perang sebagai sayap agar Garudha Nglayang kehilangan kekuatan. Dan pasukan perang Kurawa berganti gelar menjadi Cakrabyuha, bagaikan ruji-ruji roda yang berputar menyerang musuh.

Gardapati & Wersaya memancing, meledek dan menantang panegak & panengah Pandawa itu. Keluarlah Janaka dari formasi mengejar Wersaya dan Wrekudara mengejar Gardapati. Hal ini menyebabkan formasi Pandawa kebingungan dan kehilangan kekuatan.

Bertarunglah Janaka dan Wersaya satu lawan satu, demikian asyik Janaka bertarung sampai melupakan pesan dari Drestajumna agar jangan sekali-kali meninggalkan formasi, walaupun pada akhirnya Janaka yang menang

Datanglah Kyai Badranaya, sang Semar mengingatkan Janaka agar segera kembali ke barisan

Begitu pun Wrekudara yang bersemangat mengejar Gardapati sampai meninggalkan barisannya. Adu kesaktian, tingkat Gardapati masih kalah jauh dibandingkan Wrekudara sehingga dengan mudah ditancapkannya kuku Pancanaka ke perut Gardapati

Meskipun telah menang, Bathara Kresna segera mengingatkan Wrekudara agar jangan terlena dengan kemenangan dan segera kembali ke formasi perang.

Di tegal Kurusetra, perang campuh tidak terhindarkan, Garudha Nglayang digempur terus menerus oleh Cakrabyuha

Perang adu kesaktian antar ksatria yang sama-sama menjalankan tugas membela negara

Di kasatriyan Plangkawati, sang Abimanyu tampak sedang gundah karena keluarganya sedang dalam kondisi berperang. Tampak berkumpullah dewi Wara Subadra, ibu Abimanyu dan istri-istri Abimanyu, Siti Sendari dan Dewi Utari.

Kala itu Dewi Utari, sang istri muda, sedang hamil dan menceritakan mengenai mimpi buruknya kepada sang ibu

Tiba-tiba datanglah sang ksatria Pringgandani, kakak sepupu Abimanyu, sang Gatutkaca. Menghadap bibi Subadra dan melaporkan keadaan perang yang tengah ramai

Mendengar hal tersebut, segera bangkitlah Abimanyu untuk bersiap berangkat perang. Namun demi cintanya, ibu dan kedua istrinya menahan dan meminta agar Abimanyu jangan berangkat ke medan perangm mengingat jabang bayi di perut Utari. Merasa bahwa tugas ksatria adalah membela negara, dengan sekuat tenaga menghentak dan berangkatlah Abimanyu.

Menjelang berangkat, Abimanyu meminta saudara seayahnya, Bambang Sumitra, agar bersedia menjadi kusirnya. Segeralah berangkat kedua saudara itu, namun tiba-tiba sebuah anak panah melesat dan menembus jantung Sumitra, gugurlah ia di atas keretanya.

Melihat saudaranya mati, semakin menjadilah Abimanyu maju ke tengah medan laga. Tanpa ampun dihajarnyalah semua musuh yang menghalangi. Tampak kridha-nya sebagai ksatria, mewarisi bakat dan kesaktian ayahnya walaupun usianya masih muda.

Dengan kondisi kurawa yang mulai terdesak, Resi Druna segera tanggap adanya Abimanyu yang masuk ke arena pertempuran. Ditariknyalah anak panak di atas busurnya, dan melesatlah anak panak itu menjadi ribuan panah yang menhujam ke tubuh Abimanyu.

Menghadapi serangan tersebut, Abimanyu tidak bisa mengelak dan segeralah sekujur tubuh ksatria muda itu ditancapi ribuan panah Druna, bagaikan landak

Melihat bahwa Abimanyu sudah lemas, datanglah sang putra Mahkota Ngastina, Lesmana Mandrakumara, menhampirinya. Sambil mengejek tubuh yang tergeletak, anak manja itu bersesumbar dan menghunus keris hendak mengakhiri nyawa Abimanyu. Namun ia kalah cepat dengan Abimanyu yang tanggap dengan datangnya Lesmana. Lesmana mati terlebih dahulu di tangan Abimanyu.

Melihat putra kesayangan Ngastina mati, Jayadrata memenggebuk kepala Abimanyu dengan gadanya sampai mati. Datanglah Gatutkaca dari dirgantara mendapati adik kesayangannya telah kehilangan nyawa. Dengan disambut para bidadari kahyangan dan iringan Kodok Ngorek, Gatutkaca membopong kunarpa (jasad) Angkawijaya dengan sedih tetesan air mata.

Tutup Layar.
Cerita ini adalah cerita di hari ke-13 Perang Suci Bharatayuda, banyak yang bilang kematian Abimanyu ini karena sumpahnya sendiri yang mengkhianati kesetiaan istri pertamanya, Siti Sendari, ketika melamar Utari dengan mengatakan bahwa dia belum menikah.
Ada juga yang mengatakan bahwa angka ke-13 adalah angka sial, hari yang sial bagi Angkawijaya, nama lain Abimanyu.

1 thought on “Abimanyu Gugur (WO Bharata – 4 Mei 2013)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s