SUTASOMA (key of unity)

Sutasoma pupuh 139, bait 5.

Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Terjemahan:

Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal
Terpecah belahlah itu, tetapi satu jualah itu.
Tidak ada kerancuan dalam kebenaran

Demikianlah bunyi penggalan kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular yang hidup di jaman Majapahit. Potongan kalimat dari pupuh tersebutlah yang dijadikan Ir. Soekarno menjadi semboyan negara kita. Akan tetapi sudahkah kita sebagai bangsa yang menghargai nilai – nilai luhur memahami dan menerapkannya.

Penulisan kitab Sutasoma oleh Mpu Tantular dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan yang ada pada masyarakat Majapahit pada saat itu. Kondisinya hampir sama seperti saat ini dimana terdapat beberapa agama yang dianut masyarakat. Adanya agama Budha dan Siwa (Hindu) memang hampir pula menyebabkan perpecahan (baik fisik maupun mental), tetapi dari tata kenegaraan Majapahit mengangkat pembesar agama dari kedua agama tersebut untuk mendampingi Raja.

Yang ingin disoroti kali ini bukanlah penyatuan dari segi sosial politik, tapi dari segi hakikatnya. Jika kita perhatikan, “Bhinneka Tunggal Ika” tidaklah berhenti sampai “Berbeda namun satu juga”, namun dilanjutkan dengan “tan hana dharma mangrwa” yang jika ditafsirkan kurang lebih berarti “tidak (tan) ada (hana) kebenaran (dharma) yang mendua/rancu (mangrwa)”. Di sinilah seharusnya kita lebih merasakan arti dari sebuah toleransi, tidak hanya merasakan bahwa kita berbeda tetapi kita masih satu bangsa Indonesia. Namun juga menghargai (ngajeni) hal lain asalkan masih dalam jalur dharma (kebenaran).

Sayangnya seringkali kita terjebak dengan kata ‘kebenaran’ yang tidak lepas dari salah satu sifat manusia yang egois dan mencari paling benar sendiri. Sering manusia merasa bahwa dirinya yang paling benar tanpa memperdulikan sesama ciptaan Gusti yang lain, bahkan tak jarang cenderung menghalalkan segala cara dengan dalih kebenaran versinya sendiri.
Kata “Dharma” lebih cenderung kepada suatu perbuatan, suatu aksi bagaimana tindak – tanduk itu mencerminkan suatu kebaikan, bukan sekedar kebenaran.

Marilah kita bersama-sama menghargai leluhur kita, dengan mengingat kembali ajaran-ajaran luhur mereka dan merenungkannya. Semoga bermanfaat.

Salam Budaya, Salam Rahayu

2 thoughts on “SUTASOMA (key of unity)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s