Lelakon

Bulan Juli 2010, hari-hari terakhir sebelum batas pendaftaran sidang Agustus, setelah tidak bisa menyelesaikan Tugas untuk mendaftar sidang Juli. Hari – hari yang semakin penuh tekanan dimana tekanan terbesar bukanlah dari Tugas itu, tetapi tekanan kemalasan dari dalam diri sendiri, Musuh sejati manusia sejak pada mulanya, yaitu diri sendiri . . .
Di tengah – tengah banyaknya kepenatan ditambah dengan kegiatan yang monoton berulang – ulang setiap harinya menjadikan sang naluri semakin bertanya arti hidup sesungguhnya, sehingga sampailah sang penulis pada sebuah sub forum Budaya di forum terbesar se-Indonesia . . .
Banyak hal yang menyadarkan diri untuk lebih mendalami lelakoning urip. Hal pertama yang ingin dituliskan di sini adalah tentang nafsu dalam diri manusia :
1. Nafsu amarah, atau bisa dibilang mencari menang sendiri
2. Nafsu aluamah, serakah atau mencari butuhnya sendiri
3. Nafsu supiyah, kesenangan akan sesuatu yang indah (asmara/wanita)
4. Nafsu mutmainah, kebaikan dan keutamaan

Keempat hal ini lah yang ada dalam hidup manusia dan senantiasa membayang-bayangi setiap lelakoning urip-nya.

Ketika membaca (dan mengingat kembali) hal tersebut, teringatlah cerita sang Bratasena dalam lakon Dewa Ruci, di mana setelah bertemu sang Dewa Ruci dan diberikan pencerahan, maka berganti nama menjadi Bima Sena dan pakaian yang dipakainya pun diganti warnanya, yang semula berwana kain hitam-putih (di bali dinamakan kain poleng) menjadi merah-kuning-hitam-putih. Warna – warna ini juga melambangkan nafsu – nafsu manusia tersebut, merah melambangkan amarah, kuning melambangkan supiyah, hitam melambangkan aluamah, dan putih melambangkan mutmainah.
Pun dalam jagad pewayangan, hewan – hewan yang digambarkan dalam gunungan juga melambangkan keempat nafsu manusia tersebut, macan melambangkan amarah, banteng melambangkan supiyah, kera melambangkan aluamah dan burung merak melambangkan mutmainah.
Juga keempat kuda yang menarik kereta kencana Arjuna dan dikusiri oleh sang Kresna. Keempat kuda tersebut memiliki warna merah-kuning-hitam-putih yang melambangkan keempat nafsu manusia.

Dan karena keempatnya ada dalam diri manusia dan akan selalu tetap ada, tinggal bagaimana sang manusia menyadari kemanusiaanya dan mempercayai naluri batinnya untuk mengendalikan keempat nafsunya tersebut, jangan sampai malah dikalahkan oleh nafsunya. Begitulah lelakoning urip manusia akan terus berjalan dan bagaimana manusia menjalaninya, itulah proses kehidupan . . .
Marilah menjalani proses kehidupan kita dengan penyerahan total pada Sang Empunya Hidup yang telah menciptakan dunia dan segala isinya. Semoga lelakoning urip kita selalu dalam jalan kehendakNya . . .

Salam Rahayu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s