Gus Dur

Apa yang terlintas di benak anda ketika anda mendengar nama Gus Dur ? Ya, seorang yang bernama lengkap Abdurrahman Wahid merupakan seorang tokoh terkemuka di negeri ini, seorang presiden yang unik yang pernah memimpin negara ini yang sekarang sudah tiada.

Sore tadi saya menyaksikan sebuah tayangan di MetroTV yang mengulas kehidupan Gus Dur dengan menghadirkan tokoh-tokoh yang dekat dengan beliau ketika masih hidup. Hadir di acara tersebut :keluarga, anak-anak dari Gus Dur, Inul Daratista (penyanyi dangdut kontroversial yang dibela oleh Gus Dur), Gus Mus (sahabat Gus Dur sedari masa sekolah/kuliah), Jaya Suprana, Ebiet G Ade, Wimar Witoelar, Arswendo Atmowiloto, Djaduk Ferianto, beberapa pemuka agama, dan tokoh-tokoh lainnya yang dekat dengan Gus Dur. Banyak peristiwa – peristiwa lucu yang diceritakan oleh tokoh – tokoh tersebut, misalnya ketika Gus Dur dan Gus Mus bolos kuliah untuk menonton film (sampai nonton dua kali berturut-turut).

Penampilan yang mengesankan dan mengharukan adalah ketika acara ditutup dengan penampilan lagu dari Ebiet G Ade dan puisi dari Inayah, putri dari Bapak Abddurrahman Wahid. Sebuah lagu Titip Rindu Buat Ayah, demikian liriknya :

di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
benturan dan hempasan terpahat di keningmu
kau nampak tua dan telah keringat mengucur darah
namun kau tetap tabah
hmmmm
meski nafasmu kadang tersengal
memikil beban yang makin sarat
kau tetap setia

disela dengan puisi :

Bapak …
boleh aku minta tolong diajari
bantu aku memahami
karena bapak kan katanya presiden paling pandai seantero negeri
intelektualitasnya sudah diakui
mbok ya anakmu ini diajari
memahami semua ironi ini
Pak …
kenapa dulu mereka selalu menghina
mengatakan “presiden kok buta”
padahal kenyataannya bapaklah yang sebenarnya mengajari kita
untuk melihat manusia seutuhnya
tanpa embel-embel jabatan atau harta, suku atau agama
tak peduli bagaimana rupanya
Pak …
kenapa dulu mereka melecehkan
mengatakan “presiden kok ga bisa jalan sendirian”
padahal sesungguhnya bapaklah yang menuntun rakyat Indonesia
menuju demokrasi dan keadilan sesungguhnya
Pak …
bisa tolong jelaskan
kenapa orang2 yang dulu bapak besarkan
malah akhirnya menjatuhkan
menggigit tangan orang yang memberi mereka makan
apa mereka lupa dengan yang bapak ajarkan
bahwa hidup adalah pengabdian yang tidak boleh meminta harga atau jabatan
Pak …
tolong kirimi kami jawaban
lewat mimpi atau pertanda, lewat simbol juga akan aku terima
Pak … tolong pak …
tolong aku diajari
jakarta, 12 Februari


dilanjutkan lagu
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk ….

Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap bertahan

Ayah, dalam hening sepi kurindu
untuk menuai padi milik kita
tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
anakmu sekarang banyak menanggung beban

Puisi yang tak terasa membuat air mata saya berlinang. Membuat saya teringat bahwa saya punya tanggung jawab besar sebagai pemuda Republik ini. Terima kasih, Bapak Abdurrahman Wahid

Video acara ini bisa disaksikan di sini.

3 thoughts on “Gus Dur”

  1. nah mbok ngono,,hehehehhee,,,

    wah emang almarhum gusdur punya jalan pikiran yang menurut orang “nyleneh” tapi sebenarnya ada benarnya juga,,,,
    hehehe

    1. yoi, di dalam anekdot / candaan beliau, banyak hikmah yang bisa kita dapatkan ..
      tapi yang bener-bener menyentuh adalah ketika puisinya dibacakan ….
      :((

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s