kotaku kabupatenku

Tergelitik dengan adanya group di facebook yang mendukung salah seorang guru di sebuah kabupaten di Jawa Tengah, dibuatlah postingan ini. Ya, dukungan kepada seorang guru yang dikabarkan berani melaporkan adanya ‘pemerasan’ terhadap guru bersertifikasi dengan adanya pungutan dengan jumlah tertentu. Laporan yang tidak mendapat tanggapan ini pun mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk dengan dibuatnya sebuah group di facebook yang kontan saja banyak orang yang join (seiring dengan meningkatnya jamaaah facebookiyah) dan dikabarkan beberapa kali di televisi lokal

Yang ingin aku soroti bukanlah kasus tersebut tapi wajah pendidikan di kabupaten itu. Seakan sudah menjadi rahasia umum tentang ‘kerusakan’ pada sistem pendidikannya. Entah sudah berapa banyak kali ayah dan ibuku (yang notabene juga pelaku pendidikan) sambat tentang hal itu.

Yang paling dekat misalnya, ketika adanya kabar demonstrasi mahasiswa yang mempertanyakan ke dinas terkait mengenai kasus guru bersertifikasi di atas, tiba – tiba ayahku mendapat pesan singkat di ponselnya (SMS), untuk besoknya datang ke kantor dinas terkait menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para pendemo. Ya, perintah dinas hanya lewat SMS. Malamnya tampak sekali stress yang dihadapi ayahku. Sempat aku bercanda, “pak, besok masuk tivi”.

Kembali ke jaman SMA, ketika ada beberapa teman yang lolos olympiade mata pelajaran. Bahkan ada yang mewakili kabupatennya untuk berkompetisi di skala nasional. Namun, seolah tidak ada dukungan dari dinas terkait. Ke SMA Taruna Nusantara Magelang saat itu pun dengan ditemani oleh guru kami, dengan kendaraan pribadi miliknya pula. Dan setelah olympiade selesai pun, tidak ada tindak lanjut dan kabar dari dinas ke sekolah kami. Secara nalar, apa pun hasilnya pasti dikirimkan secara langsung ke dinas terkait, bukan.

Lagi, tentang para guru kami di SMA, tetapi kejadiannya ketika aku sudah tidak lagi di bangku SMA. Salah seorang guru unggulan kami, guru matematika yang jenius dan satu-satunya yang telah meraih gelar S2, tanpa alasan yang jelas dipindahtugaskan ke sekolah yang terletak agak jauh dari pusat kota. Entah bagaimana kabarnya sekarang

Kembali ke kasus guru bersertifikasi di atas. Sudah banyak surat kabar yang mengungkap kasus ini sebenarnya, apalagi setelah gempar peristiwa seorang guru yang melaporkan hal ini.Walaupun dengan jumlah yang berbeda-beda, tiap guru bersertifikasi yang berhak mendapat tambahan tunjangan dikenakan pungutan yang entah untuk apa tujuannya. Sekali lagi, hal ini seakan sudah menjadi rahasia umum. Paling tidak demikian pula yang diceritakan ayah dan ibuku.

Maka tidak heran jika banyak siswa berpotensi dari kabupaten ini tidak melanjutkan sekolah (terutama SMA) di kabupatennya sendiri, tetapi ke kota Utara yang bisa dibilang lebih maju. Tapi untunglah ayahku tetap menyekolahkanku di salah satu SMA di situ, karena aku memang cinta kabupatenku. Semoga tetap MAKMUR apapun yang terjadi.

Setelah postingan ini, semoga saja hal seperti Prita Mulyasari tidak menimpa diriku karena membuat tulisan mengenai institusi tertentu. Tujuan tulisan ini cuma sharing apa yang aku pikirkan. πŸ˜€

2 thoughts on “kotaku kabupatenku”

    1. hehehehe, bapakku ra sido mlebu tipi je
      sing dishoting sing Demo neng alun2 malahan …

      wokey ….
      yen Bersinar ndak nyaingi tonggone πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s